SEHAMPARAN Bunga PANDAN

Jika kita perhatikan kedua bilah keris ini, terdapat ricikan berpasangan yang mengapit bagian dasar bilahnya, bagai daun pandan yang tumbuh ke atas mengelilingi pangkal batangnya. Bentuknya tipis berujung runcing, membulan sabit semi tegak. Pada bilah tua sebelah kiri telah tak kentara ruasnya, pada yang kanan dari zaman yang jauh lebih muda jelas terlihat kemiripannya dengan buku-buku rumpun pandan.

Inilah yang disebut sebagai ‘Pudhak Sategal’. ‘Pudhak’ artinya bunga pandan, dan ‘sategal’, artinya seladang penuh, terhampar sejauh mata memandang.

Tanaman pandan sangat lekat dengan kehidupan masyarakat Jawa; menjadi tikar alas tidur dan duduk, dianyam jadi perangkat hidangan dan sajian, sebagai pewarna alami makanan, kain, hingga riasan, pengharum masakan dan kudapan, hingga obat berbagai penyakit. Pertumbuhan daunnya yang melingkari pokok melambangkan salah satu hal yang paling diutamakan orang Jawa dalam pergaulan; ialah harmoni, keselarasan.

Jika tanaman pandan berhimpun hingga seladang alias ‘pudhak sategal’, maka “ganda arum angambar-ambar”, aroma harumnya akan memenuhi udara, wangi surgawi tercium di mana-mana, sejalan dengan manfaatnya yang begitu luas.

Keakraban orang Jawa dengan pandan, serupa kedekatan orang Arab dengan kurma, sehingga ia dijadikan pemisalan orang beriman;

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ فَحَدِّثُونِي مَا هِيَ فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي قَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ فَاسْتَحْيَيْتُ ثُمَّ قَالُوا حَدِّثْنَا مَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هِيَ النَّخْلَةُ

Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya di antara pepohonan, ada satu pohon yang tidak gugur daunnya. Pohon ini seperti seorang muslim, penuh manfaat bagi sesama, maka sebutkanlah kepadaku apa pohon tersebut?” Lalu orang menerka-nerka pepohonan wadhi.

Abdullah ibn ‘Umar berkata: “Lalu terbesit dalam diriku, pohon itu adalah pohon kurma, namun aku malu mengungkapkannya.”

Kemudian mereka berkata: “Wahai Rasulallah ﷺ beri tahukanlah kami pohon apa itu?” Lalu beliau ﷺ menjawab: “Ia adalah pohon kurma.”

Bambang Harsrinuksmo dalam Ensiklopedi Keris menyebut, pola pudhak sategal ini baru muncul pada zaman Mataram akhir dan menjadi masyhur di masa Surakarta. Ricikan ini tak ditemukan pada keris dengan tangguh lebih tua; Jenggala, Pajajaran, Majapahit, Tuban dan lainnya.

Konon, di masa Sultan Agung ia menjadi penyederhanaan bentuk kamarogan, sekaligus meneguhkan cita Panembahan Senapati untuk menjadikan Mataram sebagai Mata-Arum, sumber aroma harum yang tak berkesudahan karena iman, ‘amal shalih, dan pengabdiannya kepada para kawula.

Tapi menyeksamai keris sebelah kiri yang ditangguh tua oleh para pinisepuh; ada yang menyebut Majapahit, peralihan Majapahit-Demak, hingga Pajang; dan terdapat ricikan serupa pudhak sategal meski tak lagi kentara, betulkah ini prototipe bentuk pudhak sategal dari zaman pra-Mataram, yang lalu kian merumit bentuknya di masa berikutnya? Teriring tabik hormat pada para sesepuh, kasuwun babaraning kawruh.