Buku

Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan (2003)

Alangkah seringnya mentergesai kenikmatan tanpa ikatan, membuat detik-detik di depan terasa hambar. Belajar dari ahli puasa, ada dua kebahagiaan baginya. Saat berbuka dan saat Allah menyapa lembut memberikan pahala. Inilah puasa panjang syahwatku.

Kekuatan ada pada menahan, dan rasa nikmat itu terasa, di waktu buka yang penuh kejutan. Coba saja kalau Allah yang menghalalkan setetes cicipan surga kan menjadi shadaqah berpahala.

Buku ini dipersembahkan untuk mereka yang lagi jatuh hati atau sedang pacaran bersama doi yang dipenuhi hasrat nikah dini tapi belum bernyali, yang sedang menjalani proses penuh liku dan yang ingin melanggengkan masa-masa indah pernikahannya.

 

Untuk Pemesanan fast respon via WA hub (081328086636)

atau

Klik di sini untuk pemesanan (via Pro-U Media)

Agar Bidadari Cemburu Padamu (2004)

Buku ini hadir untuk wanita yang ingin menghadirkan atmosfer surga dalam setiap hirup nafasnya. Yang muda maupun yang telah kaya pengalaman hidup. Yang sudah mendampingi dan didampingi, juga yang sedang menanti. Agar bidadari cemburu padamu.

Lalu para lelaki? Seharusnya mereka juga tahu bagaimana memperlakukan wanita dengan keadilan syari’at Allah. Menjaga tanpa mengekang, menghormati kebebasan namun tetap melindungi, serta memberikan rasa nyaman sekaligus rasa aman. Ia, menjadikannya rusuk kiri. Dekat ke tangan untuk dilindungi, dekat ke hati untuk dicintai. Nah, buku ini Insya Allah membantu kita, memahami ‘sang kawan perjalanan.

Untuk Pemesanan fast respon via WA hub (081328086636)

atau

Klik di sini untuk pemesanan (via Pro-U Media)

Gue Never Die (2005)

Meski di judulnya ada kata Nikah Dini, banyak-banyak kita bakal ngomongin Kerenkan Diri. Umum kok bahasannya. Isinya tentang membangun basis citarasa pribadi terhadap kehidupan sampai mengalih bentuk kekayaan: dari materi ke kualitas diri.

Umum kan? Tapi seperti biasa, tetap bikin dag dig dug yang ngebaca. Memang disengaja. Kalau nggak ada dag dig dug-nya berarti kan sudah mati. Padahal buku ini judulnya Gue Never Die. Pokoknya jadilah pribadi nggak ada matinye.

Gue Never Die, Kerenkan Diri Trus Nikah Dini! Yah, sebagaimana sering diulang-ulang penulisnya, “Mencari jodoh yang baik adalah dengan senantiasa memperbaiki diri hari demi hari. Lalu kita menjemputnya dari tangan Allah diiringi senyuman sang bidadari”.

Untuk Pemesanan fast respon via WA hub (081328086636)

atau

Klik di sini untuk pemesanan (via Pro-U Media)

Bahagianya Merayakan Cinta (2005)

Saat mereka mendoakan, ”Baarakallahu Laka…

Kubisikkan padamu, ”Cintamu sehangat ciuman bidadari…”
Kau menjawab, ”Ada barakah di kala bidadari cemburu.”

Ketika mereka meminta lagi pada Allah, ”Wa baarakallahu alaika…
Lirikanmu menusuk hatiku, ”Dalam badai, dekap aku lebih erat!”
”Bersama barakah, masalah akan menguatkan jalinan,”begitu kau kuyakinkan.

Lalu mereka menutup, ”Wa jama’a bainakum bi khaiir…
Maka tangan kita saling berpaut dan jemarinya menyatu,
”Genggam tanganku, rasakan kekuatan cinta!”
Maka sempurnalah tiga perayaan cinta…

Di saat apapun barakah itu membawakan kebahagiaan. Sebuah letup kegembiraan di hati, kelapangan di dada, kejernihan di akal, dan rasa nikmat di jasad. Barakah itu memberi suasana lain dan mencurahkan keceriaan musim semi, apapun masalah yang membadai rumah tangga kita. Barakah itu membawa senyum meski air mata menitik. Barakah itu menyergap rindu di tengah kejengkelan. Barakah itu menyediakan rengkuhan dan belaian lembut di saat dada kita sesak oleh masalah.

Baarakallahu Laka, Bahagianya Merayakan Cinta…

Untuk Pemesanan fast respon via WA hub (081328086636)

atau

Klik di sini untuk pemesanan (via Pro-U Media)

Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim (2007)

Menjadi muslim adalah menjadi kain putih. Lalu Allah mencelupnya menjadi warna ketegasan, kesejukan, keceriaan, dan cinta; rahmat bagi semesta alam. Aku jadi rindu pada pelangi itu, pelangi yang memancarkan celupan warna Ilahi. Telah tiba saatnya, derai berkilau Islam tak lagi terpisahkan dari pendar menawan seorang muslim. Dan saksikan, bahwa aku seorang muslim.

…Kau belum tahu yang aku mau. Dan kau tak tahu apa yang Allah mau. Sedang aku melakukan yang Ia mau. The show must go on! Baca buku ini agar kau tahu yang Allah mau! – Yoyoh Yusroh, Ibu dari 13 putra, Anggota DPR RI)

Ini buku yang mencerdaskan dan mencerahkan. Ditulis dengan bahasa yang halus dan indah. Selain mengajak mencintai Islam, buku ini mengajak pembacanya menjadi muslim sejati yang cerdas.” – Habiburrahman El Shirazy, Penulis Novel ‘Ayat-Ayat Cinta’

Seorang muslim tak boleh malu menunjukkan identitasnya walau terpaksa harus berhadapan dengan tuduhan ‘teroris’, atau lebih buruk dari pada itu. Buku ini membawa anda lebih PeDe sebagai Muslim.” – Fauzan Al-Anshari, Ketua Dept. Data dan Informasi Majelis Mujahidin Indonesia

Renungan-renungan ringan tapi nampol. Setiap kali membaca, kita bakal ngedapetin warna baru dari halaman demi halamannya. Yang jelas, buku ini memberikan kita semangat “Gw Bangga jadi Muslim!” yang jelas gak ketulungan: karena kita muslim, maka kita bisa meraih prestasi apa saja!” – Shofwan Al Banna, Mahasiswa Berprestasi Utama Nasional 2006

…..Meski belum sempurna, tapi buku ini cukup lumayan untuk menyegarkan komitmen kemusliman kita di tengah berbagai krisis yang telah mendera, termasuk krisis identitas….” (M. Ismail Yusanto, Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia)

….Sungguh, buku ini sarat aka perenungan yang kontributif bagi satiap langkah kehidupan. Selamat menikmati.” – Cahyadi Takariawan, Penulis buku ‘Yang Tegar Di Jalan Dakwah’ Ketua Wilda DPP PKS

Untuk Pemesanan fast respon via WA hub (081328086636)

atau

Klik di sini untuk pemesanan (via Pro-U Media)

Jalan Cinta Para Pejuang (2008)

Di sana, ada cita dan tujuan
yang membuatmu menatap jauh ke depan
di kala malam begitu pekat
dan mata sebaiknya dipejam saja
cintamu masih lincah melesat
jauh melampaui ruang dan masa
kelananya menjejakkan mimpi-mimpi
lalu di sepertiga malam terakhir
engkau terjaga, sadar, dan memilih menyalakan lampu
melanjutkan mimpi indah yang belum selesai
dengan cita yang besar, tinggi, dan bening
dengan gairah untuk menerjemahkan cinta sebagai kerja
dengan nurani, tempatmu berkaca tiap kali
dan cinta yang selalu mendengarkan suara hati
teruslah melanglang di jalan cinta para pejuang
menebar kebajikan, menghentikan kebiadaban,
menyeru pada iman
walau duri merantaskan kaki,
walau kerikil mencacah telapak
sampai engkau lelah, sampai engkau payah
sampai keringat dan darah tumpah
tetapi yakinlah, bidadarimu akan tetap tersenyum
di jalan cinta para pejuang

Ba’da buku Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan, Agar Bidadari Cemburu Padamu, GueNeverDie, Bahagianya Merayakan Cinta, dan Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim, inilah buku keenamnya. Jalan Cinta Para Pejuang. Buku yang membicarakan cinta dalam bahasa cinta. Buku yang mengajak kita menelisik makna sejati cinta sebagaimana dihayati para pejuang. Cinta yang diterjemahkan sebagai kata kerja. Cinta yang ditaklukkan untuk membersamai kerja-kerja besar mencerahkan peradaban.

Salim A. Fillah ingin membersamai Anda meniti jalan cinta para pejuang. Dengan cita yang besar, tinggi, dan bening. Dengan gairah untuk menerjemahkan cinta sebagai kerja. Dengan nurani, tempat kita berkaca tiap kali. Dan cinta yang selalu mendengarkan suara hati. Sebuah jalan ketaatan pada Ilahi yang pasti akan diuji. Jalan Cinta Para Pejuang.

Untuk Pemesanan fast respon via WA hub (081328086636)

atau

Klik di sini untuk pemesanan (via Pro-U Media)

Dalam Dekapan Ukhuwah (2010)

Karena beda antara kau dan aku sering jadi sengketa
karena kehormatan diri sering kita tinggikan di atas kebenaran
karena satu kesalahanmu padaku seolah menghapus
sejuta kebaikan yang lalu
wasiat Sang Nabi itu rasanya berat sekali:
“jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara”

Mungkin lebih baik kita berpisah sementara, sejenak saja
menjadi kepompong dan menyendiri
berdiri malam-malam, bersujud dalam-dalam
bertafakkur bersama iman yang menerangi hati
hingga tiba waktunya menjadi kupu-kupu yang terbang menari
melantun kebaikan di antara bunga, menebar keindahan pada dunia

Lalu dengan rindu kita kembali ke dalam dekapan ukhuwah
mengambil cinta dari langit dan menebarkannya di bumi
dengan persaudaraan suci; sebening prasangka, selembut nurani,
sehangat semangat, senikmat berbagi, dan sekokoh janji

Buku ini adalah renungan-renungan sederhana tentang bagaimana mem-bangkitkan kembali kekuatan ummat yang hari ini terserak-serak bagai buih tak berarti. Tentu saja tak hendak muluk, semua ikhtiar itu dimulai dari dalam diri kita. Di sini, kita menginsyafi bahwa iman berbanding lurus dengan kualitas hubungan yang kita jalin pada sesama. Juga bahwa tiap hubungan yang tak didasari iman akan jadi sia-sia. Dan baik iman maupun ukhuwah, memerlukan upaya untuk meneguhkan dan menyuburkannya.
Selamat datang dalam dekapan ukhuwah.

Untuk Pemesanan fast respon via WA hub (081328086636)

atau

Klik di sini untuk pemesanan (via Pro-U Media)

Menyimak Kicau Merajut Makna (2012)

Jawaban terindah pada pemfitnah: “Jika kau benar, semoga Allah mengampuniku. Jika kau keliru, semoga Allah mengampunimu.”
Jawaban terbaik pada penghina dan pencela kehormatan: “Yang kaukatakan tadi sebenarnya adalah pujian; sebab aslinya diriku lebih mengerikan.”
Jawaban teragung pada caci maki dan kebusukan: “Bahkan walau ingin membalas, aku tak kuasa. Sebab aku tak punya kata-kata keji dan nista.”
Terjawablah pujian: “Moga Allah ampuni aib yang tak kautahu; tak menghukumku sebab sanjungmu; dan jadikanku lebih baik dari semua itu.”
Jawaban termulia pada yang memuji: “Semoga Allah ampuni yang tak kau ketahui, semoga doamu membaikkan diriku dan dirimu.”
Sungguh kumpulan kicauan @salimafillah “Menyimak Kicau Merajut Makna” ini adalah sekadar yang tercatat untuk direnungi. Terutama oleh pengicaunya. Dan jika Shalihin dan Shalihat pembaca berkenan membersamai muhasabahnya, alangkah bahagia dalam syukur hati kami ini. Moga apa yang Shalihin dan Shalihat renungi dari kumpulan kicauan ini mengilhamkan amal shalih yang kami pun tak terhalang dari pahalanya, menjadi bekal menghadap Allah ‘Azza wa Jalla.

Untuk Pemesanan fast respon via WA hub (081328086636)

atau

Klik di sini untuk pemesanan (via Pro-U Media)

Menggali Ke Puncak Hati (2015)

Inilah menggali ke puncak hati. Menggali, sebab sesungguhnya Allah telah menganugerahkan berbagai potensi di dalam diri kita. Menggali berarti menemukan dan mengasahnya. Ke puncak, sebab sungguh hanya kepada Allah kita arahkan tiap gerisik maksud, luahan kata, hingga gerak íamal seperti yang disusun dalam rencana-rencana di buku ini. Dan hati, karena dari sanalah semua bermula sebagai niat yang harus dijaga dan diperbaiki, juga bermuara sebagai ridha atas segala yang datang dari-Nya.

Menggali ke puncak hati adalah perjalanan menuju keikhlasan terpuncak saat kita berikrar, ìSesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku kesemuanya adalah untuk Allah Rabb Semesta Alamî sembari berdoa, ìYa Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu, mensyukuri-Mu, dan mengihsankan ibadah hanya untuk-Mu.î Ya, karena seluruh diri kita adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya, sedang tak layak bagi-Nya kecuali yang terbaik; maka kita memohon pertolongan-Nya agar mampu mempersembahkan yang terbaik.

Demikian penggalian ke puncak hati itu, hingga kita berada dalam kehidupan terbaik dan kematian terbaik, saat ruh dijemput dan hati mencapai puncak keikhlasannya, “Laa ilaaha illallaah.”

“Jalan Allah ini panjang sekali,î kata Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, ìuntunglah kita tak diwajibkan untuk sampai ke ujungnya. Kita hanya diperintahkan untuk mati di atasnya.”
Selamat menggali ke puncak hati!

Untuk Pemesanan fast respon via WA hub (081328086636)

atau

Klik di sini untuk pemesanan (via Pro-U Media)

Rihlah Dakwah (2016)

Perjalanan kita, ujungnya kelak adalah sebuah pengadilan. Maka mereka yang cerdas dalam langkah-langkahnya akan mempersedikit beban dan memperbanyak bekal, serta mengurangi para penggugat dan menambah pembela hingga berlipat. Adapun seisi bumi, sebagaimana tangan dan kaki, akan bersaksi nanti ketika mulut dikunci. Bepergian di muka bumi untuk memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan Allah; diperintahkan-Nya pada kita agar ruh terisi niat-niat bakti, akal menginsyafi besarnya karunia, dan seluruh jasad tersengat semangat untuk menebar manfaat.

Sungguh, Nabi melarang kita memayahkan diri melaksanakan rihlah, kecuali tuk menuju Masjidil Haram, Masjid beliau di Madinah nan bercahaya, serta Masjidil Aqsha di Palestina. Yang terakhir ini bahkan difatwakan para íulama untuk ditunda sementara. Sebab, kiblat pertama shalat kaum Muslimin itu sedang dijajah oleh Zionis. Namun, tentang safar untuk berilmu, berdakwah, dan jihad fi sabilillah, jelas bahwa ia pengecualian yang indah.

Akhirnya, selamat berihlah dalam dakwah. Selamat melawat berburu hikmat. Sebab kita semua adalah musafir.

Untuk Pemesanan fast respon via WA hub (081328086636)

atau

Klik di sini untuk pemesanan (via Pro-U Media)

Bersamamu di Jalan Dakwah Berliku (2016)

 

“Kita lebih berhajat pada sedikit adab,” ujar Imam ’Abdullah ibn Al-Mubarak, “daripada berbanyak pengetahuan.” Demikianlah di kala lain beliau menyatakan bahwa dirinya memerlukan waktu 30 tahun untuk belajar adab, ditambah 20 tahun untuk belajar ilmu. “Adapun ilmu yang kuhimpun dari seluruh penjuru raya selama dwidasawarsa,” simpulnya, “sama sekali tak bernilai tanpa adab yang kulatihkan sebelumnya.”

“Maka pada guru yang sebenar berilmu,” begitu ditulis Ibn ’Athaillah, “kan kaureguk adab yang tak disediakan oleh buku-buku.” Demikianlah dikisahkan Harun ibn ’Abdillah tentang majelis Imam Ahmad yang dihadiri lima ribu orang. “Yang membawa kertas dan pena untuk mencatat hadits hanya lima ratus dari mereka,” kisahnya, “yang lain memperhatikan seluruh diri dan gerak-gerik Imam Ahmad untuk meneladani adab dan menyimak akhlaq.”

Yang mempelangikan perbedaan pemahaman menjadi lapis-lapis keberkahan adalah adab.

Para da’i “di atas ilmu yang jernih” amat menginsyafi, bahwa sudah selaiknya ilmu mengangkat adab diri ke ufuk tinggi, lalu mempertautkan jiwa-jiwa mereka dalam kerendahan hati, betapa pun ada perbedaan yang tiada dapat dipaksa untuk satu sehati.

Moga Allah ridhai mereka semua; yang luas ilmunya, dalam fikihnya, lapang dadanya, indah adabnya, dan jelita akhlaqnya. Moga kita dimampukan meneladaninya. Hari ini di jalan dakwah, kita dan mereka bagai bumi dan langit dalam ilmu. Maka dalam adab dan akhlaq, mari mengupayakan jadi cermin pemantul para mentari itu. Ya Allah, kami memohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan cinta kepada segala yang mendekatkan kami pada cinta-Mu.

Cuplikan dari Buku Duet “BERSAMAMU, DI JALAN DAKWAH BERLIKU”
Karya Salim A. Fillah & Felix Y. Siauw

Untuk Pemesanan fast respon via WA hub (081328086636)

atau

Klik di sini untuk pemesanan (via Pro-U Media)

Sunnah Sedirham Surga (2017)

Betapa sering kita bersemangat akan hal-hal besar dalam cita untuk memperjuangkan agama, lalu lalai bahwa Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam tiap detak dan semua laku, pun yang sekecil-kecilnya.

Pada zaman di mana banyak ‘amal besar dikecilkan oleh niat yang tak menyurga; betapa penting bagi kita mentarbiyah niat dalam ‘amal-‘amal kecil yang luput dilirik manusia, tapi berpeluang menjadi tinggi nilai bersebab niatnya.

Adalah Imam Abu Dawud ketika berada di sebuah perahu, hanya demi mendoakan seorang yang didengarnya bersin di tepian, rela membalikkan perahu yang ditumpanginya. Lantas, para penumpang saling berkisik. Bagaimana kiranya tanggapan Abu Dawud? Syahdan, sebuah kisah jikalau diramu dengan hikmah, maka ia akan terkenang dan menjadi renungan tersendiri bagi yang membacanya. Apalagi ia nyata dan teramu dari para shalihin.

Salim A. Fillah yang dikenal sebagai penulis muda yang piawai memadukan dalil dengan kisah menghadirkan sebuah karya, himpunan uswah para pemegang warisan Anbiya`, ulama dan zuama. Apa yang tersaji terkadang menggelakkan tawa, menyunggingkan senyum kesejukan, pun menumpahkan airmata mengingat dosa.

Selamat menyelami indahnya akhlak dan adab para ulama dari zaman salaf hingga khalaf lewat buku ini. Beribrah pada kekisahberteladan pada para pemegang warisan.

Untuk Pemesanan fast respon via WA hub (081328086636)

atau

Klik di sini untuk pemesanan (via Pro-U Media)


Leave a Reply

*