Buku

Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan (2003)

Alangkah seringnya mentergesai kenikmatan tanpa ikatan, membuat detik-detik di depan terasa hambar. Belajar dari ahli puasa, ada dua kebahagiaan baginya. Saat berbuka dan saat Allah menyapa lembut memberikan pahala. Inilah puasa panjang syahwatku.

Kekuatan ada pada menahan, dan rasa nikmat itu terasa, di waktu buka yang penuh kejutan. Coba saja kalau Allah yang menghalalkan setetes cicipan surga kan menjadi shadaqah berpahala.

Buku ini dipersembahkan untuk mereka yang lagi jatuh hati atau sedang pacaran bersama doi yang dipenuhi hasrat nikah dini tapi belum bernyali, yang sedang menjalani proses penuh liku dan yang ingin melanggengkan masa-masa indah pernikahannya.

Klik di sini untuk pemesanan (via Pro-U Media)

Agar Bidadari Cemburu Padamu (2004)

Buku ini hadir untuk wanita yang ingin menghadirkan atmosfer surga dalam setiap hirup nafasnya. Yang muda maupun yang telah kaya pengalaman hidup. Yang sudah mendampingi dan didampingi, juga yang sedang menanti. Agar bidadari cemburu padamu.

Lalu para lelaki? Seharusnya mereka juga tahu bagaimana memperlakukan wanita dengan keadilan syari’at Allah. Menjaga tanpa mengekang, menghormati kebebasan namun tetap melindungi, serta memberikan rasa nyaman sekaligus rasa aman. Ia, menjadikannya rusuk kiri. Dekat ke tangan untuk dilindungi, dekat ke hati untuk dicintai. Nah, buku ini Insya Allah membantu kita, memahami ‘sang kawan perjalanan.

Klik di sini untuk pemesanan (via Pro-U Media)

Gue Never Die (2005)

Meski di judulnya ada kata Nikah Dini, banyak-banyak kita bakal ngomongin Kerenkan Diri. Umum kok bahasannya. Isinya tentang membangun basis citarasa pribadi terhadap kehidupan sampai mengalih bentuk kekayaan: dari materi ke kualitas diri.

Umum kan? Tapi seperti biasa, tetap bikin dag dig dug yang ngebaca. Memang disengaja. Kalau nggak ada dag dig dug-nya berarti kan sudah mati. Padahal buku ini judulnya Gue Never Die. Pokoknya jadilah pribadi nggak ada matinye.

Gue Never Die, Kerenkan Diri Trus Nikah Dini! Yah, sebagaimana sering diulang-ulang penulisnya, “Mencari jodoh yang baik adalah dengan senantiasa memperbaiki diri hari demi hari. Lalu kita menjemputnya dari tangan Allah diiringi senyuman sang bidadari”.

Klik di sini untuk pemesanan (via Pro-U Media)

Bahagianya Merayakan Cinta (2005)

Saat mereka mendoakan, ”Baarakallahu Laka…

Kubisikkan padamu, ”Cintamu sehangat ciuman bidadari…”
Kau menjawab, ”Ada barakah di kala bidadari cemburu.”

Ketika mereka meminta lagi pada Allah, ”Wa baarakallahu alaika…
Lirikanmu menusuk hatiku, ”Dalam badai, dekap aku lebih erat!”
”Bersama barakah, masalah akan menguatkan jalinan,”begitu kau kuyakinkan.

Lalu mereka menutup, ”Wa jama’a bainakum bi khaiir…
Maka tangan kita saling berpaut dan jemarinya menyatu,
”Genggam tanganku, rasakan kekuatan cinta!”
Maka sempurnalah tiga perayaan cinta…

Di saat apapun barakah itu membawakan kebahagiaan. Sebuah letup kegembiraan di hati, kelapangan di dada, kejernihan di akal, dan rasa nikmat di jasad. Barakah itu memberi suasana lain dan mencurahkan keceriaan musim semi, apapun masalah yang membadai rumah tangga kita. Barakah itu membawa senyum meski air mata menitik. Barakah itu menyergap rindu di tengah kejengkelan. Barakah itu menyediakan rengkuhan dan belaian lembut di saat dada kita sesak oleh masalah.

Baarakallahu Laka, Bahagianya Merayakan Cinta…

Klik di sini untuk pemesanan (via Pro-U Media)

Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim (2007)

Menjadi muslim adalah menjadi kain putih. Lalu Allah mencelupnya menjadi warna ketegasan, kesejukan, keceriaan, dan cinta; rahmat bagi semesta alam. Aku jadi rindu pada pelangi itu, pelangi yang memancarkan celupan warna Ilahi. Telah tiba saatnya, derai berkilau Islam tak lagi terpisahkan dari pendar menawan seorang muslim. Dan saksikan, bahwa aku seorang muslim.

…Kau belum tahu yang aku mau. Dan kau tak tahu apa yang Allah mau. Sedang aku melakukan yang Ia mau. The show must go on! Baca buku ini agar kau tahu yang Allah mau! - Yoyoh Yusroh, Ibu dari 13 putra, Anggota DPR RI)

Ini buku yang mencerdaskan dan mencerahkan. Ditulis dengan bahasa yang halus dan indah. Selain mengajak mencintai Islam, buku ini mengajak pembacanya menjadi muslim sejati yang cerdas.” Habiburrahman El Shirazy, Penulis Novel ‘Ayat-Ayat Cinta’

Seorang muslim tak boleh malu menunjukkan identitasnya walau terpaksa harus berhadapan dengan tuduhan ‘teroris’, atau lebih buruk dari pada itu. Buku ini membawa anda lebih PeDe sebagai Muslim.” Fauzan Al-Anshari, Ketua Dept. Data dan Informasi Majelis Mujahidin Indonesia

Renungan-renungan ringan tapi nampol. Setiap kali membaca, kita bakal ngedapetin warna baru dari halaman demi halamannya. Yang jelas, buku ini memberikan kita semangat “Gw Bangga jadi Muslim!” yang jelas gak ketulungan: karena kita muslim, maka kita bisa meraih prestasi apa saja!” Shofwan Al Banna, Mahasiswa Berprestasi Utama Nasional 2006

…..Meski belum sempurna, tapi buku ini cukup lumayan untuk menyegarkan komitmen kemusliman kita di tengah berbagai krisis yang telah mendera, termasuk krisis identitas….” (M. Ismail Yusanto, Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia)

….Sungguh, buku ini sarat aka perenungan yang kontributif bagi satiap langkah kehidupan. Selamat menikmati.” Cahyadi Takariawan, Penulis buku ‘Yang Tegar Di Jalan Dakwah’ Ketua Wilda DPP PKS

Klik di sini untuk pemesanan (via Pro-U Media)

Jalan Cinta Para Pejuang (2008)

Di sana, ada cita dan tujuan
yang membuatmu menatap jauh ke depan
di kala malam begitu pekat
dan mata sebaiknya dipejam saja
cintamu masih lincah melesat
jauh melampaui ruang dan masa
kelananya menjejakkan mimpi-mimpi
lalu di sepertiga malam terakhir
engkau terjaga, sadar, dan memilih menyalakan lampu
melanjutkan mimpi indah yang belum selesai
dengan cita yang besar, tinggi, dan bening
dengan gairah untuk menerjemahkan cinta sebagai kerja
dengan nurani, tempatmu berkaca tiap kali
dan cinta yang selalu mendengarkan suara hati
teruslah melanglang di jalan cinta para pejuang
menebar kebajikan, menghentikan kebiadaban,
menyeru pada iman
walau duri merantaskan kaki,
walau kerikil mencacah telapak
sampai engkau lelah, sampai engkau payah
sampai keringat dan darah tumpah
tetapi yakinlah, bidadarimu akan tetap tersenyum
di jalan cinta para pejuang

Ba’da buku Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan, Agar Bidadari Cemburu Padamu, GueNeverDie, Bahagianya Merayakan Cinta, dan Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim, inilah buku keenamnya. Jalan Cinta Para Pejuang. Buku yang membicarakan cinta dalam bahasa cinta. Buku yang mengajak kita menelisik makna sejati cinta sebagaimana dihayati para pejuang. Cinta yang diterjemahkan sebagai kata kerja. Cinta yang ditaklukkan untuk membersamai kerja-kerja besar mencerahkan peradaban.

Salim A. Fillah ingin membersamai Anda meniti jalan cinta para pejuang. Dengan cita yang besar, tinggi, dan bening. Dengan gairah untuk menerjemahkan cinta sebagai kerja. Dengan nurani, tempat kita berkaca tiap kali. Dan cinta yang selalu mendengarkan suara hati. Sebuah jalan ketaatan pada Ilahi yang pasti akan diuji. Jalan Cinta Para Pejuang.

Klik di sini untuk pemesanan (via Pro-U Media)

Dalam Dekapan Ukhuwah (2010)

Karena beda antara kau dan aku sering jadi sengketa
karena kehormatan diri sering kita tinggikan di atas kebenaran
karena satu kesalahanmu padaku seolah menghapus
sejuta kebaikan yang lalu
wasiat Sang Nabi itu rasanya berat sekali:
“jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara”

Mungkin lebih baik kita berpisah sementara, sejenak saja
menjadi kepompong dan menyendiri
berdiri malam-malam, bersujud dalam-dalam
bertafakkur bersama iman yang menerangi hati
hingga tiba waktunya menjadi kupu-kupu yang terbang menari
melantun kebaikan di antara bunga, menebar keindahan pada dunia

Lalu dengan rindu kita kembali ke dalam dekapan ukhuwah
mengambil cinta dari langit dan menebarkannya di bumi
dengan persaudaraan suci; sebening prasangka, selembut nurani,
sehangat semangat, senikmat berbagi, dan sekokoh janji

Buku ini adalah renungan-renungan sederhana tentang bagaimana mem-bangkitkan kembali kekuatan ummat yang hari ini terserak-serak bagai buih tak berarti. Tentu saja tak hendak muluk, semua ikhtiar itu dimulai dari dalam diri kita. Di sini, kita menginsyafi bahwa iman berbanding lurus dengan kualitas hubungan yang kita jalin pada sesama. Juga bahwa tiap hubungan yang tak didasari iman akan jadi sia-sia. Dan baik iman maupun ukhuwah, memerlukan upaya untuk meneguhkan dan menyuburkannya.
Selamat datang dalam dekapan ukhuwah.

Klik di sini untuk pemesanan (via Pro-U Media)

Menyimak Kicau Merajut Makna (2012)

Jawaban terindah pada pemfitnah: “Jika kau benar, semoga Allah mengampuniku. Jika kau keliru, semoga Allah mengampunimu.”
Jawaban terbaik pada penghina dan pencela kehormatan: “Yang kaukatakan tadi sebenarnya adalah pujian; sebab aslinya diriku lebih mengerikan.”
Jawaban teragung pada caci maki dan kebusukan: “Bahkan walau ingin membalas, aku tak kuasa. Sebab aku tak punya kata-kata keji dan nista.”
Terjawablah pujian: “Moga Allah ampuni aib yang tak kautahu; tak menghukumku sebab sanjungmu; dan jadikanku lebih baik dari semua itu.”
Jawaban termulia pada yang memuji: “Semoga Allah ampuni yang tak kau ketahui, semoga doamu membaikkan diriku dan dirimu.”
Sungguh kumpulan kicauan @salimafillah “Menyimak Kicau Merajut Makna” ini adalah sekadar yang tercatat untuk direnungi. Terutama oleh pengicaunya. Dan jika Shalihin dan Shalihat pembaca berkenan membersamai muhasabahnya, alangkah bahagia dalam syukur hati kami ini. Moga apa yang Shalihin dan Shalihat renungi dari kumpulan kicauan ini mengilhamkan amal shalih yang kami pun tak terhalang dari pahalanya, menjadi bekal menghadap Allah ‘Azza wa Jalla.

Klik di sini untuk pemesanan (via Pro-U Media)


Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.