PRAWIRO RONO

Kali Bogowonto, Musim Hujan 1751 Di tengah gerimis, prajurit berseragam kesatuan Mantrijero itu maju sambil menggenggam tombak berlandheyan panjang. Luar biasanya, yang dia genggam bukan bagian gagangnya, melainkan mata tombaknya. Cara memegang tombak yang tak lazim itu tak menghalanginya untuk menyabet ke kanan dan ke kiri, membuat serdadu-serdadu VOC bertumbangan. “Hayo maju semua! Ini aku Prawiro Rono!”, sumbarnya meneriakkan nama. …

KECANTIKAN

Konon, cantik itu relatif. Ia nisbi. Sebakda pesona yang telah diambil banyak bagiannya oleh Sarah dan Khadijah, oleh Yusuf dan Muhammad ﷺ, apakah yang masih tersisa? Seseorang terlihat cantik di mata kita, setelah andil jasmani yang jadi dasaran saja, terutama justru sebab tiada persoalan antara kita dan dia. Itulah mengapa orang-orang yang jatuh dalam goda biasanya dimukadimahi masalah yang tak …

KANGJENG KYAHI TUNGGUL WULUNG

Bersama gelar Sultan Abdullah Muhammad Maulana Mataram untuk Susuhunan Agung Hanyakrakusuma, utusan Mataram yang menjumpai Syarif Makkah Zaid ibn Muhsin Al Hasyimi di bawah kuasa Sultan Murad IV dari Daulah ‘Utsmaniyah itu membawa beberapa hadiah untuk sang penguasa di Karta. Selain tarbusy ‘Utsmani yang jadi kuluk Sultan, Piagam Pengangkatan, dan Enceh (guci) Kyahi Mendhung berisi air zam-zam yang kini dapat …

SURAKARTA

Sebagai anak Yogya, para sepuh kami entah sengaja atau tidak rupanya selalu menanamkan bahwa segala yang berbau Solo itu kurang baik dan tak menarik. Perbedaan yang menajam sejak Perjanjian Giyanti 1755 itu terwariskan setidaknya di alam bawah sadar. Konon karena Susuhunan PB II di Surakarta memilih memperwalikan kerajaan dan pewarisnya pada VOC sementara adiknya, Sultan HB I mendirikan Yogyakarta dengan …