BARONGKO dan CITA SURGA

“Taro ada taro gau.. Simpan kata simpan laku.”

Satunya ucapan dan perbuatan adalah salah satu asas hidup orang Bugis yang tak boleh ditawar. Jujur, apa adanya, dan tiada beda antara yang di luar dengan yang di dalam. Kue khas Bugis yang dengan tepat menggambarkan hal ini adalah Barongko.

Di luar daun pisang. Di dalam buah pisang.

Dibuat dari pisang yang dihaluskan, santan, telur, gula, dan garam lalu dibungkus daun pisang pula, kemudian dikukus dan didinginkan, barongko pada mulanya adalah hidangan penutup nan lezat untuk jamuan raja-raja Bugis.

Kami di Jawa juga punya penganan serupa. Sama dalam tampilan luar, beda di wujud isi, tapi serupa lagi dalam rasa. Ialah Carang Gesing. Jika bahan untuk Barongko dihaluskan, maka untuk Carang Gesing pisangnya hanya dipotong-potong sahaja. Santan untuk Carang Gesing juga lebih pekat, kadang ditambah sedikit irisan roti tawar sebagai pelekat.

Namun sungguh rasanya sebelas-dua belas.

Uniknya, sebagian orang menyebut pula Carang Gesing sebagai Bongko Pisang. Bongko, Barongko, Carang Gesing. Semoga hidangan ini menjadi penanda persaudaraan kita semua, Jawa, Bugis, dan segala suku bangsa lainnya menuju surga.

Ya, karena pisang adalah salah satu hidangan bagi Ashhabul Yamin. Adalah Imam Malik yang amat menyukainya juga menegaskan ia sebagai buah surgawi; lembut, manis, dan bergizi.

“Dan pohon pisang yang bersusun-susun buahnya.” (QS Al Waqi’ah: 29)

Hingga hari ini, daerah Afrika Utara dan Sub-Saharanya yang banyak memilih Madzhab Imam Malik juga menjadikan pisang sebagai salah satu makanan pokok. Kesurgawian pisang lalu juga ditegaskan dengan nama ilmiahnya; Musa paradisiaca. Paradise, firdaus nan tinggi; mari memohon pada Allah untuk jadi penghuninya.
___________

Menyuapkan Barongko kepada Habibana @binanies, sambil bershalawat dan mengharap syafa’at dari Datuknya. Abaikan ekspresi kepingin-kepingin ngeri (takut tak kebagian dan takut tangan termakan 🙈) di wajah saya karena kalau beliau sudah merasakan lezatnya, hati sayapun sama.😊