SANG PANGERAN & JANISSARY TERAKHIR

Sublime PORTE, 15 November 1808

“Vezir-i âzam..”, kedua orang berseragam Janissary itu bertabik hormat.

“Orhan Agha! Murad Agha!”, Musthafa Pasha segera mengenali kedua perwira Beylik pengawal Sultan itu.

“Kami gagal meyakinkan para Bolukbashi. Kesatuan-kesatuan Cemaat menolak gagasan ekspedisi jihad selain ke medan Eropa.”

Musthafa Pasha mengangguk. “Sultan?”

“Tampak bingung. Agaknya beliau dalam pengaruh ibunya, Valide Sultan.”

“Ah, tentu. Wanita keperancis-perancisan itu!”

“Dan Padishah kecewa pada Anda karena Sanad-i-Ittifak.”

“Aku tahu.”

“Segera tinggalkan kota, Tuanku! Kami sudah menyiapkan kapal di dermaga yang aman. Istri dan putra-putrimu menunggu di sana.”

Salak tembak-menembak mulai mendekat ke pusat Sublime Porte. Dentuman meriam terdengar keras dan pilar-pilar di seberang tetrastoon berderak.

“Ganti pakaian Anda agar tidak mencolok dan ayo kita keluar!”, teriak Orhan.

“Tidak!”

“Sadrazam!”

“Aku takkan melepas jubah yang dipakaikan oleh Allah dan bayanganNya di bumi! Berulangkali Janissary memberontak, membunuh Sultan-sultan dan menggantinya dengan orang yang mereka suka! Aku, Alemdar Musthafa Pasha, takkan membiarkan mereka mempermalukan lagi pasukan yang dibanggakan oleh Fatih ini! Pilihan mereka adalah kembali ke medan jihad atau bubar! Sudah lama mereka hanya lontang-lantung di ibukota, berbuat menyimpang, dan merecoki Sultan dalam melayani ummat Nabi!”

“Medan jihad yang kautawarkan begitu jauh dan menakutkan mereka”, sahut Murad.

Orhan memandangi peta salinan karya Katib Celebi Pasha di belakang kursi kerja Sadrazam dengan masygul. “Ya, jauh sekali”, gumamnya.
.
“Utang negara kita pada ummat Nabi di kepulauan Jawa itu harus dibayar. Inggris, dan Perancis di bawah Napoleon yang menguasai Belanda akan memperebutkan kepulauan yang ratusan tahun memberi kemakmuran bagi separuh bumi itu. Kita harus bertindak!”
________
Sublime Porte (Bab-i ‘Ali) adalah pusat pemerintahan Daulah ‘Utsmaniyah yang dipimpin oleh Vezir-i âzam (Sadrazam) atau Perdana Menteri. Foto diambil di depan kediaman Alemdar Mustafa Pasha yang meledak pada 15 November 1808. Tunggu kisah lengkapnya.😊