SANG PANGERAN & JANISSARY TERAKHIR

Sublime PORTE, 15 November 1808 … “Vezir-i âzam..”, kedua orang berseragam Janissary itu bertabik hormat. “Orhan Agha! Murad Agha!”, Musthafa Pasha segera mengenali kedua perwira Beylik pengawal Sultan itu. “Kami gagal meyakinkan para Bolukbashi. Kesatuan-kesatuan Cemaat menolak gagasan ekspedisi jihad selain ke medan Eropa.” Musthafa Pasha mengangguk. “Sultan?” “Tampak bingung. Agaknya beliau dalam pengaruh ibunya, Valide Sultan.” “Ah, tentu. Wanita …

Sang PANGERAN dan JANISSARY Terakhir

Tubuh tinggi besar Ali Basah Sentot Prawiradirja terduduk lemas. Tangannya memegangi sorban merah yang melilit kepalanya. Matanya terpejam. Kumis gagahnya yang biasanya tegak melintang seakan luruh tertunduk. Bibir tebalnya mengomat-ngamitkan entah istighfar entah sesal. Di hadapannya, Basah Nurkandam tegak menanti keputusan terakhir Sang Senapatigung Perang Jawa itu. “Saya tahu, Kangmasmu Raden Rangga Prawiradiningrat, Bupati Wedana Mancanegara Timur itu yang memintamu …