TELAS LARAS di CINTA PERTAMA

“Kauselimutkan malam, kunyalakan pelita..
Kauciptakan lempung, kubentuk piala..
Kautumbuhkan hutan, kutata taman bunga..”

(Muhammmad Iqbal, Payam-i-Masyriq)

Konon, konsep estetika Mataraman diasaskan sebagai penghargaan terhadap alam, perjuangan, dan seni kriya manusia. Seperti dikatakan Iqbal dalam ‘Setanggi Timur’-nya di atas, inilah lambang keberserahan diri sebagai hamba Allah sekaligus khalifah di bumi.

Maka kita dapati, trah Ki Ageng Pemanahan yang berasal dari Sesela ini dalam memuliakan unsur utama ageman taqwanya yakni keris, alias dhuwung, atau curiga (yang bermakna ‘waspada dan hati-hati’, seperti makna taqwa dalam dialog antara Khalifah ‘Umar dengan Ubay ibn Ka’b), senantiasa menggunakan falsafah kehambaan dan kekhalifahan di atas sebagai panduan.

Suatu hal dinilai tinggi pertama-tama bukan karena harga bahan bakunya; melainkan karena ia berasal dari karunia Gusti Allah yang menyiratkan pralambang tertentu, dipilih dengan teliti, dikerjakan dengan cermat, dan disajikan dengan penuh adab.

Maka kayu dianggap lebih utama daripada gading (yang lalu menjadi sandhangan para saudagar di Pasisiran), meski mungkin harganya kalah. Tentu bukan sembarang kayu. Timoho yang luka-luka lalu kayunya berpelet, bebercak, berpoleng dengan ketelitian para mranggi diarahkan menjadi kriya yang indah penuh makna; entah itu kendhit, ngingrim, nyamel, sembur dan lainnya. Trembalo yang ngindhen, Cendana yang nganam kepang atau ndaging urang, Tayuman yang burus, Kemuning yang werut ataupun jengker pun dianggap demikian. Pun juga suasa, yang perlu sentuhan kriya lebih pelik juga dianggap lebih pantas bagi pusaka bahkan daripada emas yang lebih mahal harga per-gram-nya.

Nah dalam judul tulisan ini ada kata “Telas Laras”. Telas artinya habis atau puncak. Laras artinya kesepaduan atau harmoni. Konon “ngayang batin” sebagai konsep seni Yogyakarta yang paling luhur adalah telasnya laras. Yakni kita sudah merasa, “Lha ya sudah. Mau diapakan lagi? Sudah mentok ini.”

Sebagai awam, dengan kawruh sekaligus sumberdaya pas-pasan, tentu telas laras saya pernah terjadi di cinta pertama. Keris ini misalnya. Kayunya cuma Trembalo. Pendhoknya cuma perak. Tapi tatahan pendhoknya ini salah satu yang membuat batin melayang. Kriya adiluhung yang dulu membuat saya jatuh cinta, dan sampai kini terada telas laras. Sebakda deder Kemuning Jengker dan Mendhak Jene Berlian Kenanga; tak ada lagi hasrat untuk ndudut dompet dan ngayang rekening demi mengganti sandangannya. Mungkin itu karena cinta pertama. Cinta pada yang bersahaja apa adanya. Atau memang kemampuan yang pas-pasan saja. Hahaha.
__________
Sebagai kompensasi rasa bersalah atas posting pendhok perak Solo tremplek tretes kemarin; ya posting juga pendhok perak Yukja dengan tatahan saksi cinta pertama pada tosan aji.😁