SUNNAH ITU (4) MENDEKATKAN MANUSIA PADA AGAMA

Sunnah itu mendekatkan manusia pada agama.

Sering terjadi orang menjauh dari syi’ar justru akibat satu atau lain hal yang ada pada diri para da’i. Atau setidaknya ada kesan yang mereka tangkap sebagai hal negatif dari yang terlihat atau terdengar. Uniknya, tak jarang hal tersebut bukan berasal dari kesengajaan untuk berbuat buruk atau melakukan hal tak patut, bahkan justru karena semangat yang besar untuk berlaku mengikuti sunnah Sang Teladan ﷺ.

Adalah Sayyidina Mu’adz ibn Jabal menjadi makmum Rasulullah ﷺ di Masjid Nabawi pada tiap shalat fardhu. Namun pula, begitu usai salam dia beranjak dengan ta’zhim menuju ke kampungnya untuk menjadi imam shalat fardhu yang sama bagi masyarakat di lingkungannya. Sebagai penanda ittiba’nya yang sangat kukuh kepada Rasulullah ﷺ, surat-surat apa yang tadi dibaca Nabi ﷺ, dibaca pula oleh Mu’adz dalam shalatnya.

Dalam suatu hadits yang dituturkan Imam Al Bukhari dan Imam Muslim, dikisahkan bahwa pada suatu malam beliau memimpin shalat ‘Isya’, dan sebagaimana tadi telah disimaknya dari Rasulullah ﷺ, seusai Al Fatihah beliau membaca surat yang panjang. Qadarallah, di tengah-tengah shalat ada seorang lelaki yang keluar dari shaff dan memisahkan diri dari jama’ah. Lelaki bekerja sebagai petani yang seharian penuh telah bersimbah peluh di ladangnya, sehingga dia tidak sanggup untuk shalat dengan bacaan yang panjang.

Ketika hal ini dilaporkan kepada beliau, Sayyidina Mu’adz ibn Jabal memberi tanggapan lugas, “Sejatinya dia pastilah seorang munafiq.”

Tidak terima atas celaan Sayyidina Mu’adz ini, lelaki itu melaporkan kejadiannya kepada Nabi ﷺ. “Ya Rasulallah”, ujarnya dengan resah, “Sejatinya kami memiliki banyak tanggungan pekerjaan, sementara kami bekerja dengan tangan sendiri karena tak sanggup mengupah orang, kami menyirami kebun-kebun hanya dengan bantuan hewan ternak kami. Maka sungguh, tadi malam Mu’daz mengimami kami shalat ‘Isya’ dan dia membaca Surat Al Baqarah, makanya aku mundur dan menyelesaikan shalatku sendiri. Kemudian karena hal ini, Mu’adz telah menuduhku sebagai seorang munafiq.”

Sang Nabi ﷺ lalu memanggil Sayyidina Mu’adz ibn Jabal dan bersabda,
“Wahai Mu’adz, apakah engkau ini seorang tukang pembuat fitnah? Bacalah yang ringan untuk mereka, baca saja Wasysyamsi wa dhuhaha, atau bacalah Sabbihisma Rabbikal A’laa.”

Kelirukah Sayyidina Mu’adz ibn Jabal yang ingin sepenuhnya mengamalkan sunnah dengan membaca surat yang sama dengan apa yang dibaca oleh Nabi ﷺ dalam shalatnya?

Zhahirnya tidak. Akan tetapi sunnah Rasulillah ﷺ memang tidak hanya terletak dalam pengamalan lahiriah yang tepat sama, melainkan juga jiwanya yang empatik, hatinya yang penuh kasih, dan kesediaan memberi aneka keringanan bagi ummat agar mereka kian cinta pada agama. Inilah jiwa dari sunnah, inilah sejatinya sunnah.

Sunnah itu mendekatkan manusia pada agama.

Maka dalam riwayat lain disebutkan, ketika Sayyidina Mu’adz menyatakan bagaimana dia disalahkan sementara dia hanya membaca apa yang dibaca Nabi ﷺ, sama persis tanpa menambahinya, Rasulullah ﷺ menyatakan sembari tersenyum, “Makmummu tidak sama dengan makmumku.”

Juga dalam riwayat yang disepakati Imam Al Bukhari dan Imam Muslim, Sang Nabi ﷺ menyatakan:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ مِنْكُمْ مُنَفِّرِينَ فَأَيُّكُمْ أَمَّ النَّاسَ فَلْيُوجِزْ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِهِ الْكَبِيرَ وَالضَّعِيفَ وَذَا الْحَاجَةِ

“Wahai manusia, sesungguhnya sebagian kalian telah menyebabkan sesamanya lari menjauh dari agama. Siapapun di antara kalian yang memimpin shalat, hendaklah dia bermudah dan meringankannya, karena sungguh di belakangnya ada orang tua, orang lemah, dan orang yang tergesa gesa karena ada keperluan.”

Indahlah sejatinya sunnah. Ia mendekatkan manusia pada Allah, pada RasulNya, pada agama, pada ukhuwah dan cinta.