SUNNAH ITU (2) BERTANYA PADA HATI

Sunnah itu bertanya pada hati, “Apa yang akan dilakukan Nabi ﷺ dalam hal yang kuhadapi?”

“Wahai Ayahanda”, ujar ‘Abdullah ibn ‘Umar kepada bapaknya, “Mengapa bagian Usamah ibn Zaid kautetapkan lebih banyak daripada bagian Ananda, padahal kami berjihad bersama di berbagai kesempatan?”

“Karena”, ujar Sayyidina ‘Umar sembari tersenyum sendu, “Ayah Usamah, Zaid ibn Haritsah, lebih dicintai Rasulullah ﷺ daripada Ayahmu, dan Usamah lebih disayang Rasulullah daripada dirimu.”

Sunnah itu bertanya pada hati, “Apa yang akan dilakukan Nabi ﷺ dalam hal yang kuhadapi?”

Di kala Rasulullah ﷺ memasuki Makkah dan Masjidil Haram, Abu Bakr datang menuntun ayahnya kepada beliau. Ketika Nabi ﷺ melihat Abu Quhafah yang sepuh lagi telah buta, beliau bersabda, ‘Ya Aba Bakr, kenapa engkau tidak silakan ayahmu duduk di rumah dan aku sajalah yang datang pada beliau?’

“Ya Rasulallah”, jawab Ash Shiddiq, “Ayahku lebih berhak berjalan kepadamu daripada engkau datang kepadanya’. Rasulullah ﷺ tersenyum, mendudukkan Abu Quhafah di depan beliau, mengusap dadanya, dan bersabda kepada-nya, ‘Masuk Islamlah’. Abu Quhafah pun masuk Islam.

Tepat di saat Abu Quhafah menghulurkan tangan untuk berjanji setia pada Rasulillah ﷺ, Abu Bakr malah menangis tersedu. Sesenggukannya mengguncang bahu. Semua yang hadir bertanya-tanya. Bukankah di hari itu, Abu Bakr harusnya berbahagia menyaksikan keislaman ayahnya? Bukankah suatu kesyukuran besar menyaksikan orang yang kita kasihi dibuka hatinya oleh Allah untuk menerima hidayah?

Namun Ash Shiddiq berkata pada Sang Nabi ﷺ dengan tergugu-gugu, “Demi Allah, lebih kusukai jika tangan Pamanmu ya Rasulallah, menggantikan tangan Abu Quhafah menjabatmu, lalu dia masuk Islam dan dengan begitu Allah membuatmu ridha.”

Paman yang dimaksud tentulah Abu Thalib. Dia yang telah memberikan seluruh daya upaya di sisa usianya untuk membela dakwah keponakan tersayangnya, namun hidayah tak menjadi haknya. Betapa sedih Rasulullah ﷺ tentang itu. Betapa mengerti Abu Bakr akan isi dada Muhammad ﷺ.

Sunnah itu bertanya pada hati, “Apa yang akan dilakukan Nabi ﷺ dalam hal yang kuhadapi?”

Sahabat sejati, seperti Ash Shiddiq dan Al Faruq, selalu mengukur sikapnya dari hati sang kekasih ﷺ. Hari ini, kita tertatih mengukur cinta di dada kita dengan isi hati mereka. Apa yang mereka cintai, sanggupkah kita selalu mencintainya. Dan suatu wujud cinta, sunnah itu bertanya pada hati, “Apa yang akan dilakukan Nabi ﷺ dalam hal yang kuhadapi?”

Imam Muslim meriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ’Anhu, beliau berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, ”Tidaklah seorang hamba beriman sehingga aku lebih dia cintai daripada kerabatnya, hartanya, dan seluruh manusia.”