MENYAMBUNG Sultan AGUNG (Bag. 9)

“Sesungguhnya Allah Maha Indah. Dia mencintai keindahan.” Pernah kita bahas di kesempatan lain bahwa dalam gaya komunikasi Solo punya “umuk”, Jogja punya “glembuk”, dalam kuliner ‘tiyang Sala’ itu “keplek ilat” dan ‘priyantun Ngayukja’ itu falsafahnya “pawon anget”. Nah, dalam konsep seni kedua kakak-beradik pewaris Mataram itu juga punya kekhasan. Konsep seni Surakarta dikenal sebagai “ndudut ati”, sementara di Yogyakarta disebut …

MENYAMBUNG Sultan AGUNG (Bag. 8)

Ziarah ke Tembayat pada tahun 1633 itu konon mengubah Sultan Agung. Semula dia percaya, dialah raja yang terpilih untuk menyatukan Jawa di bawah panji Mataram dan mengusir bangsa nista yang datang menghisap kekayaan Nusantara. Maka selama 20 tahun bertakhta, politik ekspansinya membadai seluruh wilayah. Penaklukan, perang, pertempuran, pemberontakan, penghancuran, dan ujungnya penderitaan rakyat yang tercipta. Kota-kota pelabuhan mati, lahan-lahan pertanian …

MENYAMBUNG Sultan AGUNG (Bag. 7)

“Wahai yang mengerti cinta hanya dari sastra, bagaimana kau akan sampai ke hatiku tanpa peta?” -Piri Reis, 1465-1554- Setelah berabad-abad di masa Hindu-Budha India jadi inspirasi Nusantara, pujangga Kesultanan Mataram mengarahkan pena lebih jauh; ‘Utsmani. ‘Utsmani dijadikan patron utama peradaban. Saat masih jadi putra mahkota, Sultan Hamengkubuwana II menulis Serat Yusuf; mengisahkan pengucilan seorang pangeran oleh para saudaranya, lalu terdampar …

MENYAMBUNG Sultan AGUNG (Bag. 2)

Seringkali, cinta diselubung selaput pahit tuk mempertajam manisnya. Dan tiada pahlawan sempurna, agar kita tak melampaui batas memujanya. Setelah memenuhi nubuat pembebasan Konstantinopel, Muhammad Al Fatih telah mengambil keputusan yang dampaknya sampai ke Nusantara; menutup Bazaar Rempah-rempah kota itu. Ini karena Genoa dan Venesia yang jadi penyokong utama Kaisar terakhir Byzantium, Konstantin XI Palaelogos. Genoa mengirimkan Giovanni Gustiniani, sang ahli …