Bertamu pada ALLAH, Menyusuri Senyum dan Airmata RASULULLAH ﷺ

Di bumi yang hiruk-pikuk, ruh kita adalah makhluq yang asing dan kesepian. Ia berasal dari Allah, dan ingin bergegas kembali padaNya. Tapi jasad yang tercipta dari tanah, inginnya berlama-lama di bumi. Maka sampai batas waktu yang ditentukan ia harus bertahan. Maka ia harus dikuatkan. Ruh ini selalu merindukan keterhubungan langsung antara kehambaannya yang fana dan kekuatan yang abadi. Ia bagai …

HATIKU adalah BATUMU

“Buat apa aksi? Kita nangis dan teriak-teriak doang. Nggak mengubah keadaan kan? Buat apa mereka melempar batu? Hanya menambah korban sipil kan?” Pernyataan macam ini muncul karena dalam memandang peristiwa, kita sering hanya memusatkan perhatian pada puncaknya. Padahal takkan ada puncak tanpa dasar dan penopang. Dalam pembebasan kembali Masjidil Aqsha pada 1187, kitapun cuma mengingat nama Shalahuddin Al Ayyubi dan …

KAMBING dan DOMBA

“Hikmah di balik penggembalaan kambing sebelum masa kenabian tiba adalah agar mereka terbiasa memimpin, mengatur, mencukupi, menyayangi, mengayomi, dan melindungi yang kecakapan ini sangat diperlukan kelak untuk menangani persoalan ummat manusia.” (Ibn Hajar Al ‘Asqalani, Fathul Bari 1/144) Tempo hari ketika Nawwaf Muharrik Fillah dan Jaisyan Mabruri Fillah tertawa-tawa menyaksikan domba-domba lucu ini; saya teringat bahwa para Nabi selalu diutus …

MENYAMBUNG Sultan AGUNG (Bag. 9)

“Sesungguhnya Allah Maha Indah. Dia mencintai keindahan.” Pernah kita bahas di kesempatan lain bahwa dalam gaya komunikasi Solo punya “umuk”, Jogja punya “glembuk”, dalam kuliner ‘tiyang Sala’ itu “keplek ilat” dan ‘priyantun Ngayukja’ itu falsafahnya “pawon anget”. Nah, dalam konsep seni kedua kakak-beradik pewaris Mataram itu juga punya kekhasan. Konsep seni Surakarta dikenal sebagai “ndudut ati”, sementara di Yogyakarta disebut …