Putri CADAR Biru

“Putri cadar biruu.. Putri cadar biruuu..”, seru naracarita bersuara keibuan sekira paruh awal tahun 90-an itu. Inilah lanjutannya, “Sebuah sandiwara radio penuh tragedi menegangkan di kalangan rimba persilatan yang dikobarkan oleh seorang dara jelita akibat cinta yang kandas sebelum terbalas..”

Agak lebay memang pengantar itu. Sebab bagi para penyimak setianya, kisah Putri Cadar Biru lebih memberi kesan kepahlawanan seorang perempuan penuh keutamaan di masa perlawanan awal terhadap keserakahan VOC yang merampas daulat Pangeran Jayakarta dan memperkuat kedudukannya di kota yang akan mereka namai Batavia itu. Nun di latar jauh, Sultan Agung dari Mataram yang dikisahkan berwajah tampan, sedang menyiapkan pasukan penyerbuan.

Sebagai anak kecil di tahun-tahun itu, Putri Cadar Biru adalah khayal puncak tentang apa itu cantik bagi saya. Inilah kejelitaan sempurna yang tak terlukiskan oleh kata maupun rupa. Jatuh cinta? Mungkin tak sampai ke sana. Tapi terpesona, iya.

Di situlah anehnya; karena pendengaran sajapun rupanya dapat memabukkan. Padahal bahkan dalam cerita itupun dia bercadar biru. Betapa dahsyatnya misteri menarik kita ke pengembaraan imajinasi tak berbatas.

Sayapun teringat sebuah ayat.

“…Perumpamaan cahayaNya adalah ibarat misykat yang di dalam misykat itu ada pelita. Pelita itu di dalam kaca dan kaca itu laksana bintang yang bercahaya sekilau mutiara…” (QS An Nuur 35)

Misykat adalah secowak lubang di pojok ruangan, yang jika pelita diletakkan di situ, maka cahayanya akan lebih terasa terang daripada jika lentera ditaruh di tengah. Ini nantinya disempurnakan dalam teknologi reflektor lampu modern. Yang tak diumbar, justru yang takkan pudar.

Apa hubungannya dengan keris? Orang Jawa tak suka mengumbar pusakanya. Mereka biasa menutupinya di dalam warangka, bahkan sampai mengganti ganja di bagian hulu yang wuwungnya bisa diintip dengan ganja wulung yang berwarna hitam kebiruan agar tak dapat ditebak jenis dan pamor bilahnya. Sebagaimana lurusnya hati dan ibadah pada Allah tak tampak di luar, yang dirasakan sesama dari iman kita terutama haruslah hanya akhlaq mulia.

Itulah khumul seperti dikatakan Imam Ibn ‘Athaillah As Sakandari. “Benamkan dirimu, jangan suka kautampilkan”, ujar beliau. “Sebab biji yang tergeletak tampak, tiada kan tumbuh dengan tegak.”
__________
Barangkali ini tak ada hubungannya soal larang-melarang cadar, hehe. Hanya nostalgia tentang sesuatu yang utama, dalam syarat dan ketentuan yang terjaga. Tapi branggah trembalo iras, pendhok blewah, mendhak nyahnginang, dan deder kemuning werut semoga selalu jadi cadar bagi wilah yang hakiki. #keris #warangka #tosanaji