Mandat MATARAM-KPBI

Di antara leluhur trah Mataram terdapat nama Ki Ageng Pemanahan, ayahanda Panembahan Senapati. “Manah” dan “manggalih” dalam Bahasa Jawa maknanya mirip. Tapi kalau “manggalih” adalah jawaban atas teguran Allah, “Afalaa tatafakkaruun”, maka “manah” adalah menggunakan “lubb” yang jama’nya “albab”, sehingga ahlinya disebut “ulul albab.”

Kata “manah” yang sebanding dengan “albab” berarti “hati nurani” atau “perenungan yang dalam” dipakai juga untuk menggambarkan aksi meluncurkan anak panah dari busurnya. Maka memanah adalah satu seni olah jiwa yang luhur, menggambarkan akar kebudayaan Mataraman yang penuh falsafah “mesu budi lan raga”, mengendalikan fikiran dan jasad, sebagai persiapan untuk turut “hamemayu hayuning bawana”.

Adapun soal berkuda, ada kekhasan para pemuka Dinasti Mataram. Dikisahkan bahwa para ksatria seperti Panembahan Senapati, Sultan Agung, Hamengkubuwana I, dan Pangeran Dipanegara tak pernah memegang tali kekang ketika berkuda. Tali kekang itu mereka kaitkan di stagen sabuk pinggangnya. Maka kuda seakan menyatu dengan pengendaranya, dikendalikan lewat gerak perut dan sentuhan kaki saja.

Hidup dalam sunnah juga dicontohkan Sultan HB I saat masih menjadi Pangeran Mangkubumi, di mana dari bawah pohon pamrih di tepian Bengawan Solo, beliau sering melempar cincin bermata berliannya ke dalam arus sungai lalu terjun berenang dan menyelam untuk mengambilnya kembali. Semua yang beliau lakukan terrangkum dalam sabda indah:

كُلُّ شَىْءٍ لَيْسَ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ فَهُوَ سَهْوٌ وَلَهْوٌ إِلاَّ أَرْبَعًا مَشْىَ الرَّجُلِ بَيْنَ الْغَرَضَيْنِ وَتَأْدِيبَهُ فَرَسُهُ وَتَعَلُّمَهُ السِّبَاحَةَ وَمُلاَعَبَتَهُ أَهْلَهُ

“Setiap sesuatu selain bagian dari dzikir kepada Allah adalah sia-sa dan permainan belaka, kecuali empat hal: latihan memanah, candaan suami kepada istrinya, seorang lelaki yang melatih kudanya, dan mengajarkan renang.”

(HR At Tirmidzi dan Al Baihaqi)
______________
Mendapatkan tanda cinta berupa busur, anak panah, dan quiver dari teman-teman KPBI sebagai penanda kerjasama dengan Yayasan Mandat Mataram. Insyaallah menjadi ‘amal perintis kebangkitan peradaban. Baarakallaahu fiikum.