WATAK Kebudayaan ISLAM

“Sesungguhnya Allah Maha Indah. Dia mencintai keindahan.” (HR Muslim)

إن الله جميل يحبّ الجمال
Nahdlatul ‘Ulama telah memasyhurkan kaidah penting, “Al muhafazhatu ‘alal qadimish shalih, wal akhdzu bil jadidil ashlah.” Maknanya, “Memelihara nilai-nilai lama yang baik, dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik.”

Orang Jawa punya istilah ringkas untuk itu, yakni “Nunggak Semi”. Nunggak; kokoh memijak pada peninggalan lalu. Semi; terus tumbuh, berkembang, membaru.

Inilah yang terjadi dalam sejarah peradaban Islam. Kecuali pada keberhalaan yang membobrokkan ruhani, merudinkan cara berfikir, serta memandegkan keluhuran budi; risalah yang dibawa Nabi ﷺ tak hendak mengubur segala hasil peradaban lampau, melainkan memberinya pemaknaan baru, nilai-nilai yang kian meningkatkan marwah kehambaan dan harkat kemanusiaan insan.

Dinar Romawi dan dirham Persia tetap dipakai. Tapi diteguhkanlah prinsip anti riba, kejujuran, pemberantasan tipu-tipu serta kecurangan, keadilan timbangan, kejelasan transaksi, hingga kerapian administrasi.

Begitu pula yang dilakukan Al Fatih pada Hagia Sophia, mahakarya arsitektur dari zaman Justinianus itu. Setelah Patriark Konstantinopel ditakhtakan di gereja pengganti yang sesuai, bangunan kolosal itu menjadi Masjid. Mozaik-mozaik fresco di langit-langitnya tentu ‘mengganggu’ sebab larangan melukiskan terlebih wajah ‘Tuhan’ dalam Islam. Maka ditutuplah ia dengan sejenis plester, lalu dipasanglah panel kaligrafi raksasa sebagai gantinya. Yang menakjubkan; plester yang dipakai betul-betul hanya menutup, tidak merusak yang dilapisi. Bahkan, malah melindungi.

Ketika Masjid Sultan Ahmad dibangun di hadapannya, dengan mengadopsi kubah lengkung sekaligus menambahi struktur bertumpuk nan indah dan menara ramping, tertegaskan bahwa peradaban Islam hadir bukan hanya untuk berlomba, namun memberi ruh baru yang segar dan mengilhami.

Keris Tilam Sari yasan masa Sultan Hamengkubuwana VII ini, dari pamor wahyu tumurun kelem hingga tatahan pendhoknya menegaskan hal serupa; kala ilmu, seni, dan sejarah berpadu; berlapis renungan maknawi hadir mendzikirkan hati akan kebesaranNya.

#keris #warangka #tosanaji


Posted

in

,

by