PENARI dan PELAYAN

“Pada suatu hari raya”, demikian Ibunda kita ‘Aisyah berkisah dalam riwayat Asy Syaikhan, “Ketika rombongan orang-orang Habasyah memperagakan pertunjukan tari-tarian tombak di halaman masjid, Rasulullah ﷺ menawariku, ‘Ya Humaira, apakah engkau mau menonton mereka?’ Aku menjawab, ‘Ya’. Lalu beliau ﷺ menyuruhku berdiri di belakang beliau, dan beliau ﷺ merendahkan bahunya agar aku dapat melihat dengan jelas. Kuletakkan daguku di atas bahu beliau ﷺ sambil kusandarkan wajahku ke pipi beliau, aku menonton lewat atas pundak beliau ﷺ, dan beliau ﷺ menyeru yang di depan agar merendah..”

Masyaallah, sebuah contoh kemesraan hakiki dari Baginda Nabi ﷺ.

Berbincang tentang tarian tombak, saya ingat bahwa kami dahulu diajar menarikan Beksan Lawung Ageng khas Keraton Yogyakarta di sekolah. Duhai beruntunglah yang pernah menyaksikan saya dan Ust. Dinda Denis Prawirasandhi mementaskan tarian ini di Pendapa SMKI Yogyakarta pada bulan Juni tahun 2000.🙈

Tapi kami bangga, sebab ternyata tarian tombak ada riwayat haditsnya 😁. Saat berbincang dengan Mas Wibhi Mahardhika dan Ustadz HM Ikhsan yang pernah belajar menari di Kridha Beksa Wirama yang didirikan GBPH Tejakusuma putra Ngarsa Dalem HB VII kami mendapat ilmu bahwa tari asli Keraton Yogyakarta selalu beraura gagah dengan semangat nyawiji, greget, sengguh, dan ora mingkuh. Konon pula, baru pada masa HB V dikoreografi tari putri, dan baru dipentaskan pada masa HB VII dan HB VIII. Masyaallah.

Kaitannya dengan Warangka Keris Sunggingan ini?

Barangkali bagian dari guyon parikeno untuk ejek-ejekan santai antara Yogyakarta dan Surakarta dalam falsafah kebudayaannya yang hendak dipertajam perbedaannya adalah bahwa jika di Surakarta warangka sunggingan diperuntukkan bagi para bangsawan dengan tata urut seperti berikut;

1) Ageman raja: warangka dibabar gebekan kemudian disungging dengan motif khusus dilengkapi pendok kemalo merah.

2) Ageman pangeran putra dan pangeran cucu: warangka diberi dasar prada kuning emas kemudian disungging dengan motif khusus, dan dilengkapi dengan pendok kemalo merah.

3) Ageman para abdi dalem berpangkat bupati: warangka diberi dasar warna putih kemudian disungging dengan dilengkapi pendok kemalo warna hijau.

4) Ageman para abdi dalem panewu dan mantri : warangka diberi dasar warna hijau kemudian disungging dan diperkenankan memakai pendok kemalo hijau.

5) Ageman para abdi dalem lurah dan tingkat dibawahnya: warangka diberi warna dasar biru kemudian disungging dan tidak diperkenankan memakai pendok kemalo.

6) Ageman para bekel atau administratur menengah kebawah: memakai kemalo warna coklat.

7) Ageman para abdi dalem rendahan dan rakyat kebanyakan: kemalo warna hitam.

Adapun di Yogyakarta, pemakai warangka sunggingan yang tentu bernuansa meriah hanya meliputi para penari dan peladen (pelayan yang bertugas menyajikan hidangan) saja. Luar biasa dijungkir balik, karena justru para priyagung di Yogyakarta benar-benar hanya menggunakan warangka kayu Timoho dengan pelet yang indah atau Trembalo yang ngindhen, kadang dengan pendhok suasa yang lus tanpa tatahan.

Barangkali ini karena falsafah dasar seni ala Surakarta yang ndudut ati; gebyar, megah, kemilau, dan membelalakkan mata; sementara di Yogyakarta harus ngayang batin; sederhana, anggun, dan memancing penghayatan.

Tapi falsafah ‘nunggak semi’, inovasi yang tetap berakar pada tradisi agaknya harus dihidupkan di dunia yang berubah cepat. Mas Unggul Sudrajat dari Galeri Omah Nara giat memperkenalkan hal baru untuk kian memasyarakatkan tosan aji kepada masyarakat. Berdasar penelitian beliau, warangka sunggingan adalah salah satu pintu masuk paling menarik bagi awam untuk mulai mengapresiasi keris.

Untuk warangka sunggingan Surakarta, tentu tak ada masalah. Sebab tradisi sunggingannya dengan motif Modang, Alas-alasan, dan Poleng sudah mapan. Bagaimana dengan sunggingan Yogyakarta?

Teringatlah kita akan sebuah motif yang ada pada batik maupun ukiran pendhok keris lhas Yogyakarta. Motif itu bernama Sembagen. Sembagen berasal dari kata Sembagi, yaitu jenis kain yang berasal dari Pantai Coromandel, India yang pada tahun 1600-an dibawa oleh para niagawan ke Nusantara. Kain Sembagi dikenal juga sebagai Kain Coromandel, Chintz, Kalamkari atau Kain Kling.

Teknik pembuatan Kain Sembagi yang dilukis dengan tangan kemudian mengilhami para seniman kain di Asia Tenggara. Kain Sembagi sebagaimana Kain Patola alias Cindhe di masa-masa kerajaan lama menjadi sebuah simbol status bagi pemakainya. Di Keraton Yogyakarta, surjan yang khusus dikenakan Sultan disebut Surjan Sembagen, barangkali merujuk bahan eksklusif ini pada awalnya. Sebutan lainnya ‘Antra Kusuma’, merujuk pada pola bunga-bunga yang menghiasinya.

Atas pesanan kami, Mas Unggul kemudian men-supervisi Bapak Laskam untuk mengkreasi sunggingan Sembagen pada warangka Branggah Yogyakarta ini. Barangkali ini kelancangan yang tak termaafkan apalagi dengan memasang lambang Praja Cihna pada pusat sunggingan. Bismillaah, jika memang hanya pantas jadi warangka kerisnya penari dan pelayan; barangkali ia jadi pengingat untuk kembali pada seni yang menghaluskan budi dan mengasah diri untuk memiliki.jiwa melayani sesama.

Toh kita juga mendapat catatan, Ngarsa Dalem HB I, HB V, HB VIII, dan HB IX adalah penari baik utamanya di masa muda mereka, dan pada beberapa bahkan sesudah bertakhta. Setidaknya para beliau yasa, mengoreografi tarian yang indah. Dan soal menjadi pelayan, bukankah dikatakan “Sayyidul Qaumi Khadimuhum”, pemimpin suatu kaum adalah pelayan bagi mereka?

Kepada para pinisepuh sumangga katur memberikan babaran baik kritik maupun saran pada rintisan ini. Kali ini, sunggingannya nggebyar, tapi warna pendhok blewah kemalonya masih menaati pakem Yogyakarta yang luruh dan lebih gelap-wingit; berbeda dengan kemalo Surakarta yang merah-cabai menantang. Sebagaimana Mas Sujatmika Dwi Atmaja, di waktu yang akan datang akan kami coba pula warangka Wulan Tumanggal yang lebih tua dan bebas bias Jogja-Solo, dengan sunggingan yang lain lagi nuansanya.