HARAPAN dalam NAMA

“Pada sabar yang jelita, jalan keluar betapa dekatnya. Siapa merasai pengawasanNya, pasti selamat segalanya.
Siapa jujur pada Allah takkan digapai bahaya. Dan siapa ber-asa padaNya, dia dapati Allah sesuai harapnya.”


‏صبرًا جميلاً ما أقرب الفرجا
من راقب الله في الأمور نجا
من صدق الله لم ينله أذى
ومن رجاه يكون حيث رجا


(Imam Asy Syafi’i)

“Ini Suhail. Quraisy menginginkan perjanjian yang mudah”, demikian sabda Nabi ﷺ menyambut utusan ke-6 Quraisy setelah berlarutnya kekisruhan sebab beliau dan para sahabat dihalangi berumrah di tahun ke-6 Hijriah.

Ya, “Suhail” merupakan ism tashghir dari “Sahl”, bentuk istimewa dari kata yang bermakna “mudah”. Memang dengan Suhail inilah dicapai kesepakatan Hudaibiyah yang bersejarah; menyepakati ‘umrah diundur 1 tahun, meluaskan dakwah, dan berujung membebaskan Makkah 2 tahun kemudian.

Nama sebagai tanda sekaligus harapan adalah kecenderungan fitrah manusia. Maka agama ini menekankan orang tua memberi nama yang bermakna baik, penuh harapan dan doa. Juga Nabi ﷺ mencontohkan memberi nama senjata, tunggangan, ternak, hingga aneka perkakas sebagai doa dan tanda cinta.

Pengharapan dalam nama juga dimaktubkan oleh moyang kita dalam karya adiluhung seperti keris. Dhapur Jangkung Segara Winotan ini misalnya adalah penanda harapan yang ‘jinangkung jinampangan’, dalam lindungan dan keberkahan dari Allah.

Dikatakan bahwa, “Jangkung panganggenya, kudu jinangkung den eling.” Jika berharap, maka haraplah hanya kepada Allah dengan selalu berdzikir mengingatNya. Disertai pula sikap sumarah (ridha pada ketetapan Allah), sumeleh (tawakkal kepadaNya), dan mituhu (penuh ketaatan pada petunjuk dan nasehat Al Quran).

Adapun “Segara Winotan”, maknanya “Lautan yang Terjembatani”. Bahwa cita semustahil apapun insyaallah terwujud jika diniatkan menyambung silaturrahim dan memberi manfaat pada sesama. “Wot” juga merupakan terjemah dari “Shirathal Mustaqim”, jalan lurus yang harus ditempuh apapun cita kita di dunia, supaya selamat menyeberangi bentangannya di atas jahannam menuju surga.

Tentu amat keliru jika mengira dengan memiliki keris Jangkung Segara Winotan ini lalu cita pasti terkabul. Ia hanya pengingat supaya berprasangka baik pada Allah, berdoa, dan tiap kali mengaguminya jadi motivasi untuk memperjuangkan cita mulia itu di jalan yang benar.
___________
Jangkung Segara Winotan tangguh HB VIII, Warangka Kayu Timaha, Pendhok Perak Tretes Yakut, Mendhak Perak Nyah Nginang, Deder Kemuning Werut.