BLANGKON

Mulanya lebih dikenal sebagai ‘iket’, ia diikat sebagaimana sorban, setelah ujung-ujung di belakangnya dipertautkan. Inilah makna syahadatain, ikatan ‘aqidah yang akan menyelamatkan insan dengan iman. Pada bagian yang dipelipit atau diwiru bersilang di atas dahi, terdapat 17 lapis lipatan yang selalu mengingatkan pemakainya akan jumlah raka’at fardhu yang harus dia tunaikan setiap hari.

Ada penyimpangan makna yang buruk ketika orang menyebut blangkon dengan mondholan di belakangnya sebagai lambang kemunafikan ala Jawa; bermanis di depan tetapi beda kata di belakang. Bukan. Mondholan pada mulanya adalah pengikat rambut pria Jawa yang dipelihara sepanjang baginda Nabi ﷺ. Ia menyembunyikan hal yang indah untuk tak dipamerkan. Ia pula bermakna menahan diri dari bicara yang meski benar namun bisa menyakiti, jika tak disampaikan pada waktu, tempat, suasana, dan pilihan kata yang tepat. Berkata-kata juga harus menjaminkan manfaat bagi pendengar dan pahala bagi pewicara. Orang Jawa memegang teguh sikap ‘karyenak tyasing sasama’ atau ‘menjaga kenyamanan hati sesama’ dengan ucapan dan perbuatan. Mondholan adalah juga minzhalah yang bermakna payung pengayoman. Sebab pemakai blangkon dituntut untuk menjadi pengayom bagi sesama.

Sebagai bagian dari gaya busana taqwa Mataraman yang diletakkan dasarnya oleh Sunan Kalijaga, Sultan Agung, dan Ngarsa Dalem Sultan HB I, blangkon dengan kain batik bermotif adalah keindahan penuh makna yang ditambahkan pada surban kesukaan para ‘ulama.

Barangkali motif kain blangkon yang paling sering terlihat adalah ‘modang’, lambang nyala yang tak kunjung padam. Kali ini, kami memesan selembar kain batik tulis wahyu tumurun untuk dirangkai jadi blangkon. Motif bermakna Lailatul Qadr dan Nuzulul Quran ini rasanya cocok untuk mengikat fikiran kita dalam makna kehambaan. Begitulah blangkon dan isi kepala kita, pertemuan antara jagad alit fikir manusia dengan jagad jembar semesta yang bertasbih kepadaNya.

Itulah blangkon, yang sejak masa Sultan HB VIII dibuat siap pakai, dimaknai sebagai sesuatu yang kosong untuk diisi. Selain blangkon seperti dalam gambar, ada jenis koncer yang kain belakangnya diurai panjang hingga biasa dipakai dalam Perang. Ada pula wanda Kupu Tarung, yang merupakan awisan dalem HB VIII, ujung kainnya dihias mekrak bagaikan 2 kupu berlaga.
_____________
Warangka Gayaman Yogyakarta kayu Trembalo melengkapi blangkon; sebagai dua sandhangan yang sama-sama belum terisi. Menanti bilah yang tepat dan menunggu kepala yang sedia mengenakannya.