ATHEIS

Ketika tempo hari mendapat kehormatan dikunjungi oleh guru mulia kita Ust. @handy.bonny di @masjidjogokariyan, saya teringat bacaan saya bulan sebelumnya.

“Pertanyaan tentang Tuhan bergantung pada pemahaman tentang perbedaan antara pola dan kode”, ujar Robert Langdon, tokoh Profesor Simbologi dari Harvard besutan novelis Dan Brown itu dalam karyanya ‘Origin’, yang mengangkat polemik asal-usul kehidupan dan ke mana manusia akan menuju. “Dua hal ini sangat berbeda. Tapi banyak orang yang mengacaukan logika dengan mencampuradukkannya.”

“Pola adalah rangkaian yang teratur dan dapat dibedakan. Pola muncul di berbagai hal di alam; benih spiral bunga matahari, ruang heksagonal pada sarang lebah, riak melingkar di kolam ketika seekor ikan melompat, dan lain-lain.”

“Tapi kode itu spesial”, lanjutnya. “Kode menurut definisinya harus mengandung informasi. Kode harus lebih dari sekedar membentuk pola. Kode harus membawa data dan menyampaikan makna. Contoh kode adalah bahasa tertulis, notasi musik, persamaan matematika, bahasa komputer, dan bahkan simbol-simbol sederhana seperti salib atau bulan sabit. Semua contoh ini dapat menyampaikan makna atau informasi dengan cara yang tak dapat dilakukan bentuk spiral benih bunga matahari.”

“Perbedaan lainnya antara kode dan pola adalah bahwa kode tidak muncul secara alami di dunia. Notasi musik tidak tumbuh dari pepohonan, dan simbol-simbol tidak tergambar dengan sendirinya di pasir. Kode adalah ciptaan yang disengaja oleh kesadaran yang cerdas.”

“Bagaimana dengan DNA?”, tanya Ambra Vidal, tokoh utama perempuan yang menjadi mitra Langdon dalam alur cerita.

“Itu dia! Kode genetik. Kode genetik jelas membawa data dan instruksi-instruksi spesifik untuk membentuk suatu organisme. Ia bukan sesuatu yang spontan. Sebagaimana ketepatan Matematika, keandalan Fisika, dan keseimbangan kosmos. Ia dihadirkan oleh sesuatu yang Maha Cerdas.”

Ketika saintis atheis dikisahkan mengomputerisasi simulasi percobaan Miller-Urey untuk membuktikan terciptanya makhluq hidup dari reaksi kimia purba; Langdon mengajukan dalil kebenaran yang sederhana. Bahwa kita takkan pernah mampu mengingkari Dia Yang Maha Mencipta.😊