NERACA BERSAMA

Begitu kita berkeluarga, berbagai neraca dalam timbangan perasaan, fikiran, sikap, dan tindakan, berubah secara mendasar. Pertama-tama, “aku” dan “kamu” telah menjadi “kita”. Dari yang dulunya “keinginan” yang bisa serta-merta kita wujudkan bila ada kemampuan, menjadi renungan panjang dan doa-doa. Hatta sekedar melihat makanan kesukaan yang dulu lekas diburu, dibeli, dan dinikmati, kini ia jadi tanda tanya penuh cinta, “Yang di …