PETANG Hari PUISI

Petang, jika tanpa wajahmu yang berkilauan wudhu’ adalah gelap berlipat-lipat. Senja, jika tanpa senyummu yang seiris surga tersiram madu adalah pahit mencekik urat. Surup, jika tanpa tilawahmu yang lirih syahdu adalah sunyi menjerat-jerat.

Tapi aku tak boleh takut, tapi aku tak boleh sedih..

Karena aku hendak belajar indahnya gelap dari rindu kepada Maghrib, pada shaff yang rapat dengan kaki-bahu berkait, juga dzikir dan rabithah untuk saudara nan gaib..

Lalu hatiku menyebut namamu ketika lisan melantun doa qurratu a’yun pada Sang Maha Pengasih yang kasihNya tiada memilih, Yang Sang Maha Penyayang yang sayangNya tiada batas berbilang.. Agar kaujadi mentariku yang tak pernah senja. Agar kaujadi purnamaku yang tak pernah gerhana. Agar kaujadi kejoraku yang indah selalu.

Terasa memang kita makin menua tiap kali mentari menyembunyikan diri. Maka terimakasih atas tiap nafas yang kautiup dalam dadaku dengan kasih, maka terimakasih atas tiap detak yang kaudenyutkan dalam nadiku dengan cinta.