NGANGENI

“Yogya itu ngangeni”, kata mereka yang pernah mengunjunginya. Sebabnya tak satu dan tak baku. Setiap orang punya penjelasannya sendiri, karena kenangan itu menjerat hati, bukan isi kepala. Bukan hanya kini, pengunjungnya di perempat abad XIX menuliskan kesan ini:

“..Tapi Djocja dalam masa kemuliaannya pastilah merupakan Versailles Jawa. Kini tak sampai sepersepuluhnya yang tinggal utuh, tapi (aslinya) terlihat dari reruntuhan tembok yang besar-besar..”

-Willem von Hogendorp, 1828-

Ahli hukum Leiden Universiteit ini menyambanginya setelah 3 tahun Perang Dipanegara berkecamuk. Kala itu, banyak pangeran telah menghancurkan kediaman megah mereka di sekitar Kraton sebelum bergabung dengan barisan juang putra sulung Sultan HB III itu. Pun karena beberapa pertempuran, bangunan-bangunan terbaik telah menjelma reruntuhan.

Bahkan 16 tahun sebelumnya, pada Juni 1812, bombardemen artileri Inggris selama 4 hari 3 malam di bawah komando Kolonel Robert R. Gillespie telah menghancur-leburkan Benteng Baluwarti terutama di sisi utara hingga timur serta meremuk dan membakar bagian luas dari kraton dan kota yang indah ini.

Sebakda itu, penjarahan oleh Legiun Infanteri ke-14 (Buckinghamshire) dalam bulan Juli nyaris menghabiskan semua hal berharga darinya; emas dan perak dalam jumlah mencengangkan, pusaka-pusaka Kraton, naskah-naskah tak ternilai, aneka perhiasan, bahkan sampai kancing baju Sultan HB II yang terbuat dari berlian tak luput dipreteli.

Yogyakarta yang dilihat Von Hogendorp dalam tugas sebagai Ajudan Komisaris Jenderal Du Bus pada 1828, adalah sosok kalah, lelah, dan terluka parah, tapi pesonanya masih memukau. Sebab ia memang suatu Versailles Jawa dalam kejelitaannya, dan bahkan Madinah Jawa dalam nilai-nilainya. Madinah dari suatu tamadun yang madani, yang pada setiap sisi tata kotanya terjabarkan hakikat kemanusiaan, kehambaan, dan kebersamaan.

Yogya itu ngangeni, barangkali karena tata-kotanya memang disusun sesuai bagian terdalam dari diri kita, tentang hakikat hidup kita.


____________
#HUTJogja 261
Gambar: Masjid Mataram Kotagede; cikal bakal.
Selengkapnya pada tautan: TATA KOTA tentang HAKIKAT MANUSIA ✍


Posted

in

, ,

by

Tags: