MENGHORMATI MUSUH

Selalu ada yang dapat kita jadikan pelajaran dari mereka yang menyatakan diri sebagai lawan. Musuh yang padanya ada sifat-sifat mulia, amat layak dikenang dan diikuti keluhurannya.

Barangkali itu yang hendak diajarkan Panembahan Senapati kepada kita.

Hari itu, Sungai Serang gempita oleh teriakan perang dari dua pihak berkerabat, Jipang dan Pajang. Adipati Aria Penangsang, cucu Raden Patah dari garis Pangeran Sekar Seda Lepen memimpin pasukannya menghadapi kedatangan Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi yang mewakili menantu kesayangan Sultan Trenggana, Jaka Tingkir yang bertakhta sebagai Hadiwijaya.

Gagak Rimang, kuda kesayangan Penangsang itu melangkah gagah menyeberangi aliran deras. Pemuda itu, Danang Sutawijaya menyongsongnya dengan mengendarai kuda betina yang jelita. Ini siasat cerdik Uwaknya, Ki Juru Martani, yang tahu bahwa Gagak Rimang sedang dalam masa birahi. Maka begitu mereka berdekatan, Gagak Rimang berubah liar tak terkendali melihat lawan jenisnya. Dengan kegesitan luar biasa, Sutawijaya segera berhasil menghunjamkan tombak Kyai Ageng Pleret ke perut Penangsang.

Perut sang ksatria Jipang terbedah, ususnya terburai keluar. Tapi dengan daya tahan tubuh dan ketabahan luar biasa, Penangsang meraih untaian saluran pencernaannya itu, dan melilitkannya ke keris Kyai Ma’isyatan Kabiir (Sang Penghidupan Agung) yang diwangking di belakang pinggang. Dan dengan telak, dia berhasil menendang Sutawijaya yang mendekatinya hingga pemuda itu rubuh.

Ketika Sutawijaya bangkit kembali, Penangsang menubruknya hingga terhuyung, lalu mendekapnya dengan tenaga luar biasa. Tiba saatnya kini menyelesaikan pertarungan dengan terhormat, dan keris lah senjata pamungkas yang digunakan dalam ruketan semacam ini. Penangsang menghunus cepat Kyai Ma’isyatan Kabiir.

Qadarallah wa maa syaa-a fa’al. Keris itu memotong usus Sang Adipati sendiri, merasukkan racun warangan dari bilahnya berupa arsenik dan berbagai bisa ke dalam tubuhnya. Aria Penangsang pun rubuh gugur ketika memperjuangkan haknya atas takhta Demak.

Pemuda Sutawijaya, yang kelak dikenal sebagai Panembahan Senapati, pendiri Kesultanan Mataram Islam, mengabadikan rasa hormatnya kepada lawan tangguhnya, Aria Penangsang, dengan mewasiatkan keturunannya agar melilitkan hiasan ronce bunga melati pada keris mereka sebagai pengganti usus terburai Penangsang yang heroik. Sebuah penghormatan yang harum, indah, dan gagah. Rahimahumullaah.

#keris #warangka #tosanaji