LELAP

Sesungguhnya yang lelap di foto ini sama sekali tak bernilai.

Yang istimewa adalah pemotretnya; awak setia @sahabatalaqsha yang sering tak suka disebut namanya. Yang mulia adalah latar di belakang dan seputarannya; ada Gurunda @mohammadfauziladhim, Ustadz @abdullahhadrami, Ustadz Dr. Musthafa ‘Umar @tafaqquhonline, Ustadz @emfatan, Pak Fanni @proumedia, Kak Bimo; dan rombongan tugas juang, yang kami bagi mereka umpama anjing bagi Ashhabul Kahfipun amat tersanjung jadinya.

Sayangnya terbalik; saya yang tertidur dan mereka yang terjaga. Maka tentang lelap; bukan siapanya, tapi tidur itu sendirilah yang merupakan tanda kebesaran Allah.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah tidur kalian di waktu malam dan juga siang hari dan usaha kalian mencari sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.” (QS. Ar Rum: 23)

Ada tidur beberapa jenak yang dianugerahkan Allah pada Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya di Badr, sebagai ketenteraman dariNya di saat-saat genting mencekam. Ada tidur yang Allah karuniakan pada ‘Uzair selama 100 tahun untuk menjawab tanya hati, “Bagaimana Allah akan menghidupkan bumi ini sesudah matinya?” Dan ada tidurnya para pemuda penghuni gua, 309 tahun sejak mereka beriman, bertambah hidayah, berikat hati, berdiri tegak, dan menyuarakan keimanan.

Lelap karena lelah dan lillahnya para pejuang, betapa bermaknanya. Adapun lelap karena sia-sia dan dan banyaknya dosa seperti yang tergambar, betapa lebih layak ditegur dengan ungkapan menghunjam ini:

مَا رَأَيْت مِثْلَ الْجَنَّةِ نَامَ طَالِبُهَا، وَمَا رَأَيْت مِثْلَ النَّارِ نَامَ هَارِبُهَا
“Tiada kulihat yang semisal surga, bagaimana bisa tidur pemburunya. Dan tiada kulihat yang seperti neraka, bagaimana bisa tidur buruannya.”

Yaa Rabb, maka jadikanlah lelap kami sesekali di tengah safar bersama insan-insan mulia ini bernilai kehambaan pula di sisiMu.