KEYAKINAN

Suatu hari di tahun 628, dua kakak beradik sedang menjaring ikan di Sungai Sumidagawa. Yang mereka dapat bukan ikan, melainkan sebuah arca Kannon. Ketika dengan hati-hati benda itu dikembalikan ke sungai, ke manapun mereka mengarahkan lemparan jaring, patung itu pulalah yang tersangkut. Begitu terjadi berulang kali.

Kannon, di Cina dikenal sebagai Guan Yin alias Dewi Kwan Im, perlambang welas asih, satu di antara Bodhisatwa utama dalam kepercayaan Mahayana yang berkembang di Tiongkok dan menyebar ke negeri sekitarnya.

Untuk memuliakan sang Kannon, di tepi sungai Sumida, di wilayah Asakusa inilah pada tahun 645 didirikan Kuil Sensoji, kini jadi sebuah objek wisata yang memikat 30 Juta pengunjung setiap tahun. Asakusa sendiri di masa Keshogunan Tokugawa atau zaman Edo (1603-1868) adalah pusat hiburan yang sangat ramai, barangkali terumpamakan Shinjuku di masa kini.

Berada di timur laut Istana Keshogunan yang dianggap arah kesialan, Sensoji diharapkan menjadi pelindung. Pada tahun 1600 menjelang pertempuran Sekigahara yang termasyhur, Tokugawa Ieyasu yang memimpin koalisi timur berdoa di kuil ini. Hasilnya? Aliansi barat pembela Toyotomi Hideyori yang dipimpin Ishida Mitsunari berhasil dikalahkan.

Apa perlunya kita mengetahui ihwal kepercayaan orang yang berbeda dengan keyakinan kita seperti ini?

Pemahaman. Pemahaman selalu menjadi kunci utama kita dapat bersambung rasa dalam pergaulan dengan sesama manusia. Bahkan pada puncaknya, da’wah Kangjeng Sunan Kudus misalnya dahulu berhasil karena penghormatannya pada keyakinan masyarakat Hindu soal lembu. “Di dalam Al Quran terdapat Surat yang berjudul Al Baqarah”, demikian beliau konon membuka seruan setelah masyarakat berkumpul karena seekor sapi ditambat di depan rumahnya.

Had terbawahnya, jangan sampai kita menjadi sebab dioloknya Allah oleh orang lain tanpa ilmu, bersebab kejahilan kita pada keyakinan orang lain. Inilah Al Quran tegas melarang:

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

“Dan janganlah kamu mencaci maki sesembahan yang mereka ibadahi selain Allah, karena mereka nanti akan mencela-cela Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan” (QS Al An’am: 108)

Ibn Qayyim Al Jauziyah dalam I’lamul Muwaaqi’in menjelaskan ayat di atas dengan berkata, “Tentu termasuk maslahat besar bila kita tidak mencela tuhan orang kafir agar tidak berdampak celaan bagi Allah.” Menjaga kemuliaan keyakinan kita adalah wajib. Jika salah satu caranya adalah dengan menghormati keyakinan lain, maka ia jadi niscaya pula.