Kampoeng Ramadhan; RENYAH DI LUAR, SYAHDU DI DALAM

Kalau Ramadhan terbayang sebagai waktunya untuk lemas dan malas; betapa malunya kita pada Rasulullah dan para Salafush Shalih sebab sungguh justru Ramadhan mereka dipenuhi nyala ruh perjuangan yang semarak.

Dari Badar hingga ‘Ain Jalut, dari Fathu Makkah hingga Proklamasi Kemerdekaan RI; Ramadhan menjadi latar yang berseri.

Jihad Ramadhan selalu dihakikati dua sisi; gempita penuh semangat di luar dan sekaligus penuh kekhusyukan dan kesyahduan di dalam. Kampoeng Ramadhan Jogokariyan tertatih mencoba menghadirkannya dalam kegiatan-kegiatan yang saling menyuburkan syiar itu.

Maka Pasar Sore dengan ratusan pedagangnya menggairahkan semangat berkarya warga kampung; tapi 2000 porsi makan berbuka yang dimasak bergilir ibu-ibu dasawisma dan disajikan dengan piring agar menyedikitkan sampah dan mengguyubkan cuci piringnya semoga menjadi hidangan ifthar yang menautkan ukhuwah imaniyah.

Maka warna-warni street decoration menghiasi jalanannya, disertai berbagi kegiatan yang terasa kreativitas kemudaannya; namun Imam Tarawih dari negeri jihad Palestina yang khusus dihadirkan semoga terus mengobarkan cita kesyahidan dalam tilawah merdunya.

“..Dan supaya kalian sempurnakan bilangan puasa itu, dan supaya kalian maha besarkan Allah atas hidayahNya bagi kalian, serta agar kalian bersyukur kepadaNya.” (QS Al Baqarah: 185)

Pertanyaannya adalah, “Yakin nggak pengin ke Jogja? Yakin mau melewatkan keseruan Kampoeng Ramadhan Jogokariyan ke-14?”