GERHANA

Ada kesalahan logika yang disebut sebagai ‘post hoc ergo propter hoc’. Artinya? “Sesudah itu, maka karena itu.”

Alih-alih menelaah faktor yang menjadi penyebab suatu hal, sesat fikir ini melihat urutan kejadian sebagai hubungan pasti sebab akibat. Polanya adalah (B terjadi sesudah A), maka (B terjadi karena A).

Rasulullah ﷺ mencegah “post hoc ergo propter hoc” ini dari ummat pada sebuah kejadian duka. Ketika itu, putra penyejuk mata di tengah perjuangan, Ibrahim yang lahir dari Mariyah Al Qibthiyah wafat. Tepat beberapa saat kemudian, terjadilah gerhana. Maka orang-orang berkata, “Gerhana ini terjadi karena meninggalnya Ibrahim.”

Beliau ﷺ bergegas meluruskan. “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah 2 dari tanda kekuasaan Allah. Terjadinya gerhana bukan karena kematian seseorang atau kehidupannya. Maka jika kalian melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, bershadaqahlah, dan shalatlah.” (HR Al Bukhari & Muslim)

Semua peristiwa alam dimaknai tuk menguatkan kehambaan pada Allah. Kita sikapi ia dengan dzikir & tafakkur, lalu kesimpulannya, “Duhai Pencipta, Pemelihara, Pemberi Rizqi, Penguasa, & Pengatur segala urusan kami; tidaklah Kaucipta semua ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari api neraka.” (QS Ali ‘Imran: 191)

Gerhana adalah soal bayang-bayang di antara 3 makhluqNya; mentari, bulan, dan bumi. Maka ia mengingatkan kita akan hakikat dunia seperti yang disebutkan Ibn Qayyim Al Jauziyah. “Dunia ini bayangan semata. Meski kaukejar bagaimana jua, takkan dapat kau menangkapnya. Tapi jika kau mantap langkahkan kaki ke tujuan sejati, ia akan setia mengikuti.”

Keris dan 2 warangka gaya Yogyakarta (Branggah dan Gayaman) ini juga mengingatkan hal serupa, tentang bayang-bayang, dan tentang hidup yang bagai mengendarai bahtera. Jangan berhenti tangan mendayung, karena arus membawa hanyut. Berbahan kayu Trembalo (Cassia javanica L.), bersama pendok perak yang membungkus gandarnya, ia menyembunyikan bilah keris, seperti kita merahasiakan ibadah, dan terus berjuang menampakkan atsarnya, berupa akhlaq mulia yang kemilau bagi sesama.

Selamat menunaikan shalat sunnah gerhana bulan, Shalih(in+at).😊