GAUL

Guruku Hanan Attaki, sementara kau dengan begitu luwes memeragakannya di bawah kuplukmu serta di atas papan, roda, maupun ombakmu; aku tertatih menjelmakan ciri mukmin yang satu ini pada diriku;

المؤمن يأْلَف ويُؤْلَف، ولا خير فيمن لا يأْلَف ولا يُؤْلَف

“Mukmin itu mudah akrab dan enak diakrabi. Dan tiada kebaikan pada orang yang tidak suka mengakrabi, tak nyaman pula diakrabi.” (HR Ahmad, Al Hakim, dan Al Baihaqi dari Abu Hurairah)

Imam Al Munawi mensyarah hadits ini dengan berkata, “Mudah akrab dan enak diakrabi karena kebaikan akhlaqnya, kemudahan wataknya, dan kelembutan perangainya.” Dan sebaliknya, tiada kebaikan pada orang yang susah akrab, “Karena lemah imannya, keras hatinya, dan kasar perangainya.”

Guruku; setelah mengamalkannya dengan begitu fasih, kaupilih kata “gaul” untuk sifat mukmin yang satu ini; lalu mereka bicara ini-itu tentangmu. Tak apa. Itulah dakwah. Dan inilah kami mendoakanmu. Dan inilah kami cemburu padamu. Yang dengan perantaraanmu berribu-ribu hati merunduk pada Allah, kembali pada agama, terlunjak ke arah taubat, terlompat menuju hijrah, dan tetiba rindu pada Rasulullah ﷺ, sahabat, dan para shalihin.

Mereka memerinci apa yang mereka anggap keliru dari dirimu, -dan telah kaujelaskan begitu bernas dengan metode tajdidul istilaahat dan bayan sesuai bahasa kaumnya-, tapi aku tak hendak berdetail-detail membelamu.

Sebab memang engkau beruntung memiliki mereka yang tanpa diminta, tanpa imbalan, selalu teliti menunjukkan apa yang mereka anggap keliru. Aku percaya, kau selalu akan menjadikan semua nasehat sebagai permata. Meski ia digenggamkan diam-diam, atau diulungkan sambil diumumkan, atau dilempar disertai maki-makian; selalulah ambil permatanya.

Sebab memang engkau tak perlu banyak-banyak menjelaskan ihwal dirimu; yang cinta tak memerlukannya, yang benci tetap takkan menerima. Ambillah segala hujatan itu sebagai 3 macam benda berharga. Kalau bukan nasehat yang permata, maka ia hiburan yang membuat kita sehat dan tertawa, dan tentu penggugur dosa serta penambah pahala yang tiada perlu usaha dan tak payah bagi kita. Berikut ini hanya beberapa hal yang menarik hatiku.

Betapa pentingnya menjadi sosok yang kuat lagi merdeka, yang berani menyatakan sikap, yang tidak terikat pada tirani jumawa. Dan aku mengernyitkan dahi membaca makna kata yang kaupilih untuk mengakrabkan sosok agung itu pada kids zaman now di KBBI:

//pre·man1 /préman/ n 1 partikelir; swasta; 2 bukan tentara; sipil (tentang orang, pakaian, dan sebagainya); 3kepunyaan sendiri (tentang kendaraan dan sebagainya); orang — , orang sipil, bukan militer; mobil — , mobil pribadi (bukan mobil dinas); pakaian — , bukan pakaian seragam militer//

Agak lucu jika mereka menganggap yang seperti ini pelecehan. Tapi tak apalah. Hatta jika benar kau terpeleset lidah dan keliru, kami akan meneladani Imam Asy Syafi’i yang ketika seseorang keliru mendoakannya dengan doa kebinasaan menjawab sambil tersenyum, “Ya Allah kabulkan hatinya, jangan lisannya.”

Ah tapi aku sedih juga tentang sebagian bantahan. Kau istilahkan Allah tersenyum menyambut taubat hambaNya. Sebab dalilnya jelas bahwa Dia memang gembira menerima hamba yang kembali padaNya dan Dia memiliki sifat tersenyum. Yang mempersoalkan ini akan berriweuh-riweuh memasuki bahasan sifat Allah, dan kalimat “Allah tidak baca WA” akan lebih rumit lagi perkaranya.

Ya Allah, akupun akan tetap mencintai mereka yang selalu menuduh-nuduhmu, sebagaimana aku yakin engkaupun begitu. Sebagian mereka juga guruku, orang-orang berilmu. Sebagian mereka juga sahabatku, orang-orang yang bersemangat menuntut ilmu. Sebab jika tulus hati mereka dalam nasehat, tentu kelak Allah himpunkan kita semua bermaafan lagi bersaudara dalam surga. Dunia mah cuma sementara. Banget.

Tetaplah gaul Guruku, rahmat dan berkah semoga tercurah untuk semua langkah dakwahmu.