GAJAH

Surat Maharaja Sri Indrawarman dari Sriwijaya itu disalin oleh Ibn ‘Abdi Rabbih dalam kitabnya Al ‘Iqd Al Farid. Penerimanya seorang Khalifah yang adil dan mulia, ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz:

“Dari Raja sekalian para raja yang juga adalah keturunan ribuan raja, yang permaisurinya pun adalah cucu dari ribuan raja, yang kebun binatangnya dipenuhi ribuan gajah, yang wilayah kekuasaannya terdiri dari ribuan pulau, yang di tiap pulaunya ada ribuan gunung, yang dari tiap gunungnya mengalir ribuan sungai yang mengairi tanaman lidah buaya, rempah wangi, pala, dan jeruk nipis, yang aroma harumnya menyebar hingga ribuan mil. Kepada Raja Arab yang tak menyembah tuhan-tuhan lain selain Allah. Aku telah mengirimkan kepadamu bingkisan yang tak seberapa sebagai tanda persahabatan. Kuharap engkau sudi mengutus seseorang untuk menjelaskan ajaran Islam dan segala hukum-hukumnya kepadaku.”

Sementara Ibnu Taghribardi dalam An Nujum Azh Zhahirah fi Muluk Mishr wa Al Qahirah mencatat teks tambahan untuk akhir surat yang diperkirakan sampai Damaskus pada 717 itu:

“Saya mengirim hadiah jebat (rusa misik), gaharu, batu ratna, dupa, kayu manis, dan kapur barus. Terimalah dari saudara Islammu.”

Kalimat ini yang menguatkan beberapa pendapat akan keislaman Sang Maharaja seperti disebut Azyumardi Azra dalam ‘Islam in The Indonesian World’ dan ditegaskan HAMKA dalam ‘Sejarah Ummat Islam’.

Pengiriman mu’allim oleh ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz terkonfirmasi dalam salah satu kronik Dinasti T’ang; di mana Sang Kaisar menerima hadiah seorang sahaya berkulit hitam dari Raja Shi Li Fo Shi (Sriwijaya), yang merupakan kiriman Raja Arab. Dimungkinkan, pengiriman guru agama disertai pula jariyah, pelayan perempuan, seperti kebiasaan masa itu.

Dalam surat Sri Indrawarman disebutkan tentang gajah, dan binatang ini menjadi penanda kedigdayaan kerajaan-kerajaan di Nusantara. Adalah Aceh di masa Iskandar Muda memiliki kesatuan pasukan gajah seperti dicatat oleh Denys Lombard. Adalah Mataram mengerahkan beberapa gajah dalam penyerbuan ke Batavia seperti terlukis dalam sketsa karya seorang Belanda yang ikut mempertahankan Benteng Holandia. Demikian pula dicatat bahwa Sultan Agung datang dengan mengendarai gajah ketika menaklukkan Wirasaba, bekas ibukota Majapahit di Mojokerto sekarang. Tentu sumber gajah Mataram adalah vasalnya di Sumatera; Palembang.

Dunia Islam mengenal gajah dari kejadian Abrahah, Adipati Agung Habasyah untuk Yaman yang menyerbu Ka’bah hingga tahun kejadiannya diingat sebagai tahun kelahiran Nabi ﷺ. Dalam pertempuran Qadisiyah, Sa’d ibn Abi Waqqash dan para sahabat lain juga harus berjibaku menantang maut menghadapi barisan gajah Persia. Gajah memang simbol keagungan, tapi tak boleh menjadi sumber kesombongan. Seperti gajah-gajah Abrahah yang dikalahkan burung-burung kecil, seperti ibu jari dikalahkan kelingking.
___________
Warangka Gayaman Yogyakarta terbuat dari bam/geraham gajah yang memfosil. Alhamdulillah, gajah yang mati alami bukan hanya meninggalkan gading.😊