BERSAMA SIAPA

“Carilah tetangga sebelum memilih rumah, carilah kawan sebelum memilih perjalanan”. Makna bahagia seringkali bukan soal di mana atau ke mana, melainkan bersama siapa.

Kalau berkemah di tepi hutan terlalu hujan atau terlalu terik; Mas Nawwaf dan Mas Jaisyan tak masalah berkemah di dalam rumah. Adanya Abah dan Ummi lebih penting dari soal lokasi. Kalau hendak hadirkan suasana, tinggal nyalakan bunyi kicau burung dari gawai, atau matikan lampu, nyalakan lilin, dan setel suara lolong serigala.

Kebersamaan adalah penyempurna dari rasa bahagia menikmati karunia. Seindah apapun pemandangan, selezat apapun hidangan, akan terasa kurang jika yang tercinta tak menyertai. Itulah memgapa kita selalu memohon agar kelak dihimpun di dalam surga beserta seluruh keluarga dan keturunan kita.

“Dan orang-orang yang beriman, dan anak-cucu mereka mengikuti dengan keimanan, Kami himpunkan anak cucu mereka itu dengan mereka (di dalam surga)..” (QS Ath Thuur: 21)

Hari ini ketika para orangtua mengeluhkan putra-putrinya lebih akrab dengan gawai, tercandu permainan daring, dan terbebat media sosial; barangkali harus segera kita perjuangkan agar diri kita kembali lebih asyik untuk disentuh dan dipencet-pencet dibanding gadget.

Nabi ﷺ membuat takjub Abu Hurairah ketika sepulang dari perjalanan jihad, Al Hasan dan Al Husain telah menjadikan beliau kuda-kudaan, dipacu keliling ruangan. “Aduh Nak”, ujarnya, “Yang kalian kendarai ini adalah tunggangan termulia di langit dan bumi.”

Beliau ﷺ tersenyum, “Dan para penunggangnya adalah penghulu para pemuda di dunia dan di surga.”

Para ayah, tawarkan pada anak kita taman bermain lengkap di rumah kita, dari badan kita. Tawarkan ayunan dari kedua lengan yang ditautkan jemarinya untuk mereka duduk sambil kita menunduk dan mengayunnya maju mundur. Atau komidi putar dengan merentang lengan kanan, persilakan mereka duduk di pergelangan, pegangi dengan tangan kiri, angkat dan ayunkan naik turun sambil terus berputar. Atau jungkat-jungkit dengan dengan menyuruhnya duduk di ujung kaki saat kita bertumpu pada kursi, lalu angkat dan turunkan berulang-ulang.

Masyaallah la quwwata illa billah. Maafkan kakinya ya.😆