SUGENG TINDAK, Pak Nardi

Lautan takkan dapat digambarkan hanya dengan seciduk air tentu saja. Langit tak bisa diwakili hanya oleh secercah sinar kejora. Demikianlah kemuliaan guru kami, KH Sunardi Syahuri, juga takkan habis dibabar hanya dengan kata-kata, seberapapun banyaknya.

Tapi, mari tetap menjadi saksi kebaikannya. Tapi, mari kisahkan satu dua permatanya, untuk diwariskan pada para pejuang selanjutnya.

Ke mana orang-orang yang hendak membangun Masjid harus pergi jika biaya masih jauh dari keperluan? Pada beliau, yang di mobilnya selalu ada beras, gula, pakaian, dan bahkan bersak-sak semen untuk dibawa berceramah dan dibagikannya.

Beliaulah andalan ummat kalau hendak membangun Masjid, atau Panti Asuhan, atau apapun ‘amalut tahdhidh, mengajak-ajak menafkahkan harta. Inilah kalimat khasnya mengajak berinfaq, “Saya ini untuk nyumbang Masjid ini, apa-apa saya jual lho Pak, Bu.. Beras saya jual, sandal saya jual, baju saya jual, sampai celana dalampun saya jual! Maka monggo, saya ajak kita semua berinfak yang terbaik.”

Tentu beliau bercanda, tapi tanpa dusta, soal jual-jualan itu. Ya, di tangan istrinya tercinta, Ibunda Hj. Noor Liesnani Pamela, jejaring minimarketnya berkembang melayani berbagai kebutuhan ummat. Di situlah beliau menjual beras, sandal, hingga pakaian dalam seperti diceritakannya. Dan sekali hadir mengajak berinfaq, jutaan hingga puluhan juta keluar dari kantongnya.

Bukan. Jangan salah sangka. Bukan dengan harta semata beliau berada di hati ummat. Bertahun-tahun menjadi Ketua Dewan Dakwah di Yogyakarta, membina puluhan yayasan pendidikan dan lembaga keuangan syari’ah, membina persaudaraan haji dan ‘umrah hingga pelosok desa, membina Forum Ukhuwah Islamiyah, mengayomi para pemuda dan ormas Islam. Selalu lembut namun teguh. Selalu tegas namun teduh.

Saya selalu ingat kalimat beliau kalau memikat orang untuk memprioritaskan berhaji dan berumrah dibanding rumah atau mobil, “Saya itu Pak, Bu.. Saking terpesonanya, kalau pulang dari Haram nggak pernah bisa jalan dengan ‘ngungkurke’ (membelakangi) Ka’bah. Selalu jalan mundur. Berat sekali berpisah. Lha itu baru lihat Daleme (RumahNya) Gusti Allah, lha nanti bagaimana kita di surga, diberi kesempatan ningali langsung Gusti Allah.”

Selamat berjumpa Gusti Allah, Syaikhana KH Sunardi Syahuri. Semoga ada di antara kami yang Allah mampukan meniti jejak perjuanganmu.

SUGENG TINDAK, Pak Nardi@salimafillahLautan takkan dapat digambarkan hanya dengan seciduk air tentu saja. Langit tak bisa diwakili hanya oleh secercah sinar kejora. Demikianlah kemuliaan guru kami, KH Sunardi Syahuri, juga takkan habis dibabar hanya dengan kata-kata, seberapapun banyaknya.Tapi, mari tetap menjadi saksi kebaikannya. Tapi, mari kisahkan satu dua permatanya, untuk diwariskan pada para pejuang selanjutnya.Ke mana orang-orang yang hendak membangun Masjid harus pergi jika biaya masih jauh dari keperluan? Pada beliau, yang di mobilnya selalu ada beras, gula, pakaian, dan bahkan bersak-sak semen untuk dibawa berceramah dan dibagikannya.Beliaulah andalan ummat kalau hendak membangun Masjid, atau Panti Asuhan, atau apapun 'amalut tahdhidh, mengajak-ajak menafkahkan harta. Inilah kalimat khasnya mengajak berinfaq, "Saya ini untuk nyumbang Masjid ini, apa-apa saya jual lho Pak, Bu.. Beras saya jual, sandal saya jual, baju saya jual, sampai celana dalampun saya jual! Maka monggo, saya ajak kita semua berinfak yang terbaik."Tentu beliau bercanda, tapi tanpa dusta, soal jual-jualan itu. Ya, di tangan istrinya tercinta, Ibunda Hj. Noor Liesnani Pamela, jejaring minimarketnya berkembang melayani berbagai kebutuhan ummat. Di situlah beliau menjual beras, sandal, hingga pakaian dalam seperti diceritakannya. Dan sekali hadir mengajak berinfaq, jutaan hingga puluhan juta keluar dari kantongnya.Bukan. Jangan salah sangka. Bukan dengan harta semata beliau berada di hati ummat. Bertahun-tahun menjadi Ketua Dewan Dakwah di Yogyakarta, membina puluhan yayasan pendidikan dan lembaga keuangan syari'ah, membina persaudaraan haji dan 'umrah hingga pelosok desa, membina Forum Ukhuwah Islamiyah, mengayomi para pemuda dan ormas Islam. Selalu lembut namun teguh. Selalu tegas namun teduh.Saya selalu ingat kalimat beliau kalau memikat orang untuk memprioritaskan berhaji dan berumrah dibanding rumah atau mobil, "Saya itu Pak, Bu.. Saking terpesonanya, kalau pulang dari Haram nggak pernah bisa jalan dengan 'ngungkurke' (membelakangi) Ka'bah. Selalu jalan mundur. Berat sekali berpisah. Lha itu baru lihat Daleme (RumahNya) Gusti Allah, lha nanti bagaimana kita di surga, diberi kesempatan ningali langsung Gusti Allah."Selamat berjumpa Gusti Allah, Syaikhana KH Sunardi Syahuri. Semoga ada di antara kami yang Allah mampukan meniti jejak perjuanganmu.

Dikirim oleh Salim A. Fillah pada Senin, 12 November 2018