PROFIL (SULTAN AGUNG)

“Wajahnya keras tapi sekaligus bijak, dia bagai kaisar dengan dewan penasehatnya, memerintah dengan keras sebagaimana di negara besar lainnya.”

-Balthasar Van Eyndhoven dan Van Surck, 1614-

Sekira 2 abad setelah masa Sejong Yang Agung dari Joseon, 3300 mil ke selatan, muncul raja yang juga bernama Agung. Seperti Sejong, telah kita bahas bahwa dia juga mewariskan banyak hal untuk Nusantara.

Seperti apakah dia?

Sebagaimana dikutip Dr. H.J. De Graaf dalam De Regering van Sultan Agung, vorst van Mataram, De Haen yang datang ke Mataram tahun 1622 menceritakan bahwa badan Sultan Agung bagus, kulitnya sedikit lebih hitam dari kebanyakan orang Jawa, hidung kecil tidak pesek, mulut datar agak lebar, keras dalam bicara namun lamban iramanya, wajah tenang, bulat, dan tampak cerdas.

Pakaiannya tak terlalu berbeda dengan umumnya orang Jawa. Sebilah keris terselip di depan ikat pinggang berwarna emas. Pada jarinya terpasang cincin dengan intan gemerlapan.

Jan Vos yang datang tahun 1624 juga menyebut tentang cincin gemerlapan yang dipakai Sultan Agung. Raja ini tegas dan haus ilmu. Dia mempelajari peta dunia, menanyakan nama-nama pejabat Belanda, dan beberapa pengetahuan dari utusan yang datang. Dia juga mempelajari huruf Latin dan bahasa Belanda.

Peristiwa pemadaman pemberontakan Adipati Pragola II dari Pati pada 1636 yang diketengahkan Y.B. Mangunwijaya dalam roman ‘Rara Mendut’ juga menggambarkan profil Sang Nata. “Sri Susuhunan bertubuh bagus”, tulis Romo Mangun. “Kepala beliau bundar dengan sepasang mata besar-besar dan menyala, mulut agak lebar berbibir tipis. Kewibawaannya tak kepalang tanggung.

Beliau berkuluk Turki warna putih damas berpelisir kencana yang memusat bagaikan jeruji cakra di atas, dan yang tersimpul oleh sebuah biji kencana hampir sebesar buah kelengkeng.

Kedua telinga beliau terhias sunting waderan yang mengombak luwes ke belakang sehingga merupakan pigura samping pengatur rambut yang sebagian terjurai mengilau berbau mawar. Rompi kebesarannya dari beledu warna merah darah beku yang menutupi dada dan punggung, terhias dengan sulaman emas berpola cakra roda semesta, yang lingkaran serta jeruji-jerujinya berbentuk keris serta bunga-bunga melati kesuma, dan yang berkilauan megah bersama dengan bandul kalung dari ukiran lempeng-lempeng emas ber-karat tua.

Namun yang paling menyolok ialah besarnya kain dhodhot batik berpola nila tua mulia khas kesultanan yang menjuarai dalam sekian wiru lipatan serta menggelembung di belakang pinggul dan ke muka, yang begitu panjangnya hingga menyapu lantai pasir halaman dan batu basalt hitam pendapa terpoles.”
_________