NERACA BERSAMA

Begitu kita berkeluarga, berbagai neraca dalam timbangan perasaan, fikiran, sikap, dan tindakan, berubah secara mendasar.

Pertama-tama, “aku” dan “kamu” telah menjadi “kita”. Dari yang dulunya “keinginan” yang bisa serta-merta kita wujudkan bila ada kemampuan, menjadi renungan panjang dan doa-doa. Hatta sekedar melihat makanan kesukaan yang dulu lekas diburu, dibeli, dan dinikmati, kini ia jadi tanda tanya penuh cinta, “Yang di rumah makan apa ya?” Demikian pula tawaran pesiar ke tempat indah, jadi kurang menarik bahkan timbul rasa bersalah jika para terkasih tak mendampingi.

Apa yang dulunya adalah hobi serta kesenangan diri, juga mengalami penyesuaian. Apakah kesenangan kita, bisa jadi kesenangan bersama, ataukah ia tetap kesenangan pribadi yang dapat ditenggang-rasai, atau bisa jadi pada kadar tertentu ia sudah mengganggu. Apa yang sebelumnya adalah keisengan, bisa jadi persoalan berat, terlebih jika menyangkut urusan ketersambungan hubungan keluarga ini hingga akhirat. Apalagi jika ia sebentuk maksiat. Karena dosa pada yang di langit, menjadikan kemurkaanNya terejawantah di hati makhluq-makhluq yang dicintaiNya pada kita.

“Aku selalu bisa menakar kedudukanku di sisi Allah”, ujar Al Fudhail ibn ‘Iyadh, “Dari sikap istriku padaku, baghal tungganganku, hingga tikus-tikus di rumahku.”

 

Saling percaya dalam rumahtangga ibarat wadah kaca, sukar sekali merangkainya kembali jika telah pecah. Hatta sekedar retakpun, ia jadi tak dapat menampung isi sebagaimana semula. Maka menjaganya, meski berat, jauh lebih ringan daripada memperbaikinya.

“Dijadikan kecintaanku terhadap dunia ini pada istri-istri dan haruman wangi, dan dijadikan qurrah ‘ainku dalam shalat”, ujar Nabi ﷺ.

Para ‘ulama mengatakan, ini berarti “qurrah ‘ain” itu lebih tinggi dan lebih mulia dibanding cinta. Maka betapa indahnya doa para ‘Ibaadurrahman, hamba-hamba Sang Maha Pengasih yang meminta agar pasangan dan anak keturunan mereka dijadikan “qurratu a’yun”, yang menyejukkan mata dan hati bersebab keridhaan Allah, bukan sekedar “kecintaan”.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

Ya Rabb, jadikan kami keluarga surga.