KAMBING dan DOMBA

“Hikmah di balik penggembalaan kambing sebelum masa kenabian tiba adalah agar mereka terbiasa memimpin, mengatur, mencukupi, menyayangi, mengayomi, dan melindungi yang kecakapan ini sangat diperlukan kelak untuk menangani persoalan ummat manusia.”

(Ibn Hajar Al ‘Asqalani, Fathul Bari 1/144)

Tempo hari ketika Nawwaf Muharrik Fillah dan Jaisyan Mabruri Fillah tertawa-tawa menyaksikan domba-domba lucu ini; saya teringat bahwa para Nabi selalu diutus dari kalangan gembala. Anak-anak lelaki kita, ada baiknya diamanahi jadi gembala di usia sekitar 10-15 tahunnya; demi persiapan mereka menjadi para pemimpin ummat. Lagipula, di sana ada lapis-lapis berkah.

“Peliharalah oleh kalian kambing karena di dalamnya terdapat barakah”. (HR. Ahmad)

Sayyidina Abu Hurairah juga berkata, “Rasulullah pernah disuguhi kambing. Bagian kaki diberikan pada beliau. Beliau menyukainya, menggigit, dan menyantapnya.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Selama ini, beredar khabar bahwa daging kambing buruk untuk kesehatan, meningkatkan tekanan darah, juga berkolesterol tinggi. Pendapat ini dibantah oleh kami yang awam dengan mengatakan, “Itu bukan kambingnya. Melainkan bumbu, santan, dan cara memasaknya.” Orang Yogyakarta akan menambahkan, “Makan Sate Klathak jauh lebih sehat daripada Sate Buntel ala Solo yang dibungkus lapisan lemak itu.” Orang Solo akan menimpali, “Daging kambing Jogja itu berlemak, jadi bisa langsung bakar. Daging kambing Solo lebih liat dan bersih, jadi perlu dibuntel.”

Ya, bahkan soal jenis kambing pun, Yogyakarta dan Surakarta yang sesama trah Mataram namun berpisah sejak 1755 itupun beda selera. Di Solo, kambing kacang Jawa yang berbulu hitam-coklat itu lebih utama. Di Yogya, kambing gibas yang lebih mirip domba itu amatlah disuka.

Nah, para ahli pun telah menjelaskan, justru daging kambing lah yang paling sehat dibandingkan dengan lembu ataupun ayam. Kandungan proteinnya paling bagus dengan semua asam amino yang diperlukan tubuh. Kadar lemaknya berrasio sehat. Ikatan lipoproteinnya justru bermanfaat mengurai kolesterol jenuh. Zat besi dan potasiumnya pas. Vitamin C tak teroksidasinya menjaga kelembutan kulit. Struktur molekulnya paling memudahkan untuk dicerna.

Terakhir, ditemukan bahwa bagian pusat syaraf yang mengatur sistem darah (NW18) terkait dengan kawasan Thalamus (NW3). Thalamus berfungsi sebagai penjaga kasih sayang. Sistem darah yang sehat dan kuat akan memastikan bagian Thalamus juga kuat dan membantu menciptakan perasaan kasih sayang.

Jantung akan kian lebih lembut dan halus pergerakannya ketika menerima kolesterol daging kambing. Jantung yang lembut menciptakan perasaan tenang dan gembira. Jantung yang lancar pergerakannya mudah tersentuh dan terpesona oleh sesuatu yang menyentuh perasaannya. Jadi daging kambing ini membahagiakan dan memicu rasa cinta. Masyaallah.

Selamat mengittiba’ sunnah makan ini, yang Rasulullah pun memang hanya sesekali. Insyaallah tak ada efek samping, hanya efek ke depan agar makin mencintai dan dicintai.