JEDA

“Sesekali, mundurlah selangkah. Temukan hal terlewat yang jatuh di bawah. Tataplah ke seluruh arah; dunia kan jauh lebih indah.”
{Su Dong Po, (1037-1101), Sastrawan Dinasti Song}

Sesekali, ketika dunia nyata maupun maya terlalu riuh dengan derau yang mengeruhkan batin kita, mari memgambil jeda.

Bukankah Isma’il dan ibunya ditinggalkan Ibrahim di lembah tak bertanaman di sisi Rumah Allah yang dimuliakan untuk menjadi benih yang baru akan bertunas menggapai langit di masa Muhammad ﷺ? Bukankah Musa ‘Alaihissalaam menuju Madyan dan bekerja dalam keterasingan sebelum kembali ke Mesir dan membawa risalah pembebasan Bani Israil?

Bukankah Maryam mengasingkan diri ke timur untuk melahirkan ‘Isa yang memberi makna baru atas Taurat yang terjumudkan? Dan Muhammad ﷺ, berapa kali dan selama apakah dia berada di Hira’ untuk menyambut wahyu Iqra’?

“Alangkah syahdu menjadi kepompong; berkarya dalam diam, bertahan dalam kesempitan.

Tetapi bila tiba waktu untuk jadi kupu-kupu, tak ada pilihan selain terbang menari, melantun kebaikan di antara bunga, dan menebar keindahan pada dunia.

Alangkah damai menjadi bebijian; bersembunyi di kegelapan, menanti siraman hujan, menggali hunjaman dalam-dalam.

Tetapi bila tiba saat untuk tumbuh dan mekar, tidak ada pilihan kecuali menyeruak menampilkan diri; bercecabang menggapai langit, membagikan buah manis di setiap musim pada segenap penghuni bumi.”

Tak selalu harus ke tempat yang benar-benar jauh dan benar-benar sepi. Yang utama adalah mengambil waktu bagi jiwa untuk bermesra dengan Rabb semesta, sebagaimana kata dalam kalimat diberi jeda, agar lebih jelas dan tegas maknanya.
_________
#latepostphoto