DI BAWAH KUPLUK

Karena di bawah kupluk bersahaja itu ada akal yang tak henti membaca tanda dalam nama Rabbnya…

Karena di bawah kupluk bersahaja itu ada lautan ilmu bergelora, luas tak dapat dikira, dalam tak dapat diduga…

Karena di bawah kupluk bersahaja itu ada fiqih yang keluwesannya merasuk hati, yang kemudahannya selaras fitrah…

Karena di bawah kupluk bersahaja itu ada fikir yang tak lelah bekerja, mengupayakan yang mashlahat dan menepis yang mafsadat bagi ummat…

Karena di bawah kupluk bersahaja itu ada tadabbur yang berdebur-debur, tak henti menyemai tanaman dakwah nan subur…

Adalah kebahagiaan diperkenankan sejenak menempelkan rambut pada kupluk yang bersahaja, meski ternyata amat tak cocok penampakannya…

Betapa indahnya kesejukan yang ditebarkan para ‘ulama; seperti Ibn ‘Abbas menuntun keledai Zaid ibn Tsabit, seperti Zaid mencium tangan Ibn ‘Abbas, seperti Abu Hanifah dan Malik saling memuji, seperti Imam Asy Syafi’i dan Imam Ahmad saling mendoakan, seperti Imam Muslim meminta izin mencium kaki Imam Al Bukhari, seperti Imam Sahl ibn ‘Abdillah At Tasturi meminta izin memuliakan lidah Imam Abu Dawud…

Bedanya, yang satu ini hanya al faqir yang banyak dosa, Salim A. Fillah namanya; di hadapan salah satu guru ummat zaman kita, Teungku Hanan Attaki, hafizhahullaah, -dan kita tak menganggap suci siapapun jua di hadapan Allah-. Teurimong geunaseh, Teungku, telah menarik debu tak berharga ini ke dalam arus deras dakwah…

“Tameungon ngon banggi rôh tameucandu, tameungon ngon teungku jeuet meudu’a…”

“Berkawan pemadat jadi pencandu, berkawan ‘ulama bisa berdoa…” 😊 @ Lapangan Vatulemo Balai Kota Palu