ADAB Abu Bakr

Apakah para sahabat Nabi ﷺ selalu menaati perintah beliau? Tidak. Ada kala mereka memilih Adab.

Shubuh itu, Abu Bakr Ash Shiddiq seperti telah diperintahkan sebelumnya maju mengimami kaum muslimin. Ketika shalat hendak dimulai, adalah Sayyidina ‘Abbas dan ‘Ali memapah sosok yang diringkihkan demam itu. Maka tetiba sergapan kebahagiaan menyusup ke dada semua orang dan mencerah-cahayai wajah mereka. Inilah Rasulullah ﷺ. Inilah beliau kembali hadir di tengah-tengah mereka.

Menyadari junjungannya bergabung dalam barisan di shaff pertama meski sembari duduk, Abu Bakr memundurkan diri. Tapi Nabi mendorong kembali Abu Bakr untuk maju mengimami. Mentaati dorongan Rasulullah ﷺ, Abu Bakr maju sejenak sejauh tolakan tangan Sang Nabi. Tapi setarik nafas kemudian Ash Shiddiq mundur lagi. Demikian berulang hingga tiga kali.

Akhirnya Abu Bakr berundur lalu duduk di sebelah kanan Sang Nabi ﷺ, kemudian diberinya isyarat agar semua yang hadir shalat turut duduk. Demikianlah mereka memahami, sebab Sang Nabi yang akan mengimami shalat dalam keadaan duduk, merekapun bersembahyang dengan cara duduk.

Selesailah shalat itu dan Nabipun menanyainya. “Ya Aba Bakr”, sabda beliau sembari tersenyum meski wajah agungnya tampak pucat, “Telah kuperintahkan agar kau tetap menjadi imam, mengapa engkau mundur?”

“Ya Rasulallah”, jawab Abu Bakr sembari menunduk dengan bulir bening di matanya, “Lebih baik tanah di depanku terbelah lalu aku jatuh ke dalamnya, kemudian bumi menutup dan menghimpitku hingga binasa, daripada aku harus menjadi imam, sementara ada Baginda di belakangku.”

Andai dia tetap menjadi imampun, Abu Bakr sama sekali tidak bersalah. Dia akan ternilai sebagai orang yang mentaati Rasulullah ﷺ, satu ketaatan yang sebenarnya tak dapat ditawar sebab ia gambaran ketaatan kepada Allah. Namun Ash Shiddiq memilih adab.

Maka adab, terkadang adalah wujud paling indah dari buah akhlaq yang manis, harum, dan lembut di pohon iman yang berakar kokoh dalam hati.
__________
Jazaakallaahu khayran Akhi @susantomadani atas penggal bincang tentang Adab ini. Shalih(in+at) bisa subscribe “Pro-You Channel” di YOUTUBE untuk simak lebih banyak bincang bersama kami.

ADAB Abu BakrSalim A. Fillah.Apakah para sahabat Nabi ﷺ selalu menaati perintah beliau? Tidak. Ada kala mereka memilih Adab..Shubuh itu, Abu Bakr Ash Shiddiq seperti telah diperintahkan sebelumnya maju mengimami kaum muslimin. Ketika shalat hendak dimulai, adalah Sayyidina ‘Abbas dan ‘Ali memapah sosok yang diringkihkan demam itu. Maka tetiba sergapan kebahagiaan menyusup ke dada semua orang dan mencerah-cahayai wajah mereka. Inilah Rasulullah ﷺ. Inilah beliau kembali hadir di tengah-tengah mereka..Menyadari junjungannya bergabung dalam barisan di shaff pertama meski sembari duduk, Abu Bakr memundurkan diri. Tapi Nabi mendorong kembali Abu Bakr untuk maju mengimami. Mentaati dorongan Rasulullah ﷺ, Abu Bakr maju sejenak sejauh tolakan tangan Sang Nabi. Tapi setarik nafas kemudian Ash Shiddiq mundur lagi. Demikian berulang hingga tiga kali..Akhirnya Abu Bakr berundur lalu duduk di sebelah kanan Sang Nabi ﷺ, kemudian diberinya isyarat agar semua yang hadir shalat turut duduk. Demikianlah mereka memahami, sebab Sang Nabi yang akan mengimami shalat dalam keadaan duduk, merekapun bersembahyang dengan cara duduk..Selesailah shalat itu dan Nabipun menanyainya. “Ya Aba Bakr”, sabda beliau sembari tersenyum meski wajah agungnya tampak pucat, “Telah kuperintahkan agar kau tetap menjadi imam, mengapa engkau mundur?”.“Ya Rasulallah”, jawab Abu Bakr sembari menunduk dengan bulir bening di matanya, “Lebih baik tanah di depanku terbelah lalu aku jatuh ke dalamnya, kemudian bumi menutup dan menghimpitku hingga binasa, daripada aku harus menjadi imam, sementara ada Baginda di belakangku.”.Andai dia tetap menjadi imampun, Abu Bakr sama sekali tidak bersalah. Dia akan ternilai sebagai orang yang mentaati Rasulullah ﷺ, satu ketaatan yang sebenarnya tak dapat ditawar sebab ia gambaran ketaatan kepada Allah. Namun Ash Shiddiq memilih adab..Maka adab, terkadang adalah wujud paling indah dari buah akhlaq yang manis, harum, dan lembut di pohon iman yang berakar kokoh dalam hati.__________Jazaakallaahu khayran Akhi @susantomadani atas penggal bincang tentang Adab ini. Shalih(in+at) bisa subscribe "Pro-You Channel" di YOUTUBE untuk simak lebih banyak bincang bersama kami.

Dikirim oleh Salim A. Fillah pada Kamis, 10 Januari 2019