Sang PANGERAN dan JANISSARY Terakhir

Tubuh tinggi besar Ali Basah Sentot Prawiradirja terduduk lemas. Tangannya memegangi sorban merah yang melilit kepalanya. Matanya terpejam. Kumis gagahnya yang biasanya tegak melintang seakan luruh tertunduk. Bibir tebalnya mengomat-ngamitkan entah istighfar entah sesal. Di hadapannya, Basah Nurkandam tegak menanti keputusan terakhir Sang Senapatigung Perang Jawa itu.

“Saya tahu, Kangmasmu Raden Rangga Prawiradiningrat, Bupati Wedana Mancanegara Timur itu yang memintamu berhenti berperang. Dan saya tahu, Dimas punya hutang budi pada beliau.”

“Saya mohon Kangmas jangan menyalahkan Kakang Rangga Madiun. Semua keputusan ada di tangan saya.”

“Lantas?”

“Sesungguhnya saya tidak mengira bahwa semua syarat yang saya ajukan akan dipenuhi”, Sentot memukulkan tangannya ke meja kayu jati hingga nampan beserta kendi di atasnya bergeletar.

“Syarat apa?”

“Pertama, tetap memimpin 1000 prajurit Bregada Musthafin saya. Kedua, disediakan 500 pucuk senjata baru untuk Pasukan Pinilih ini. Ketiga, uang 10.000 ringgit untuk keperluan-keperluan saya. Keempat, pangkat dan gaji tertinggi dalam kesatuan kavaleri Belanda. Kelima, tetap memeluk Agama Islam, tetap berseragam sorban, serta tidak turut dalam acara-acara yang melibatkan khamr dan kemaksiatan.”

“Kaulihat, betapa mahalnya dirimu bagi mereka, hingga mereka sanggupi semua permintaanmu?”

“Ya, saya baru menyadarinya.”

“Bodoh! Tidakkah kau tahu semua itu murah sekali untuk ditukar dengan surga yang Allah janjikan bagi kesetiaanmu pada Sultan kita dan Perang Sabil ini?”

“Kangmas?”

“Apakah ucapanku keliru?”

“Saya sudah mencoba mengajukan syarat yang berat dan ternyata…”

“Kau dapatkan semua yang kauhasratkan? Semua yang tak dapat Sultan berikan padamu?”

“Kangmas!”, Sentot menggebrak meja hingga dua cangkir di sisi kendi terpelanting beradu. Dengan murka dia bangkit dan mengacungkan telunjuk kirinya pada Nurkandam sementara tangan kanannya memegang hulu keris bergaya Wetanan yang selalu diselipkan dalam posisi nyothe di depan perutnya. Matanya memerah nyaris sewarna jubah yang dikenakannya dan tudingannya gemetar.

“Silakan Dimas, bunuh saya kalau memang itu akan lebih melegakan hati dari keputusan menyerahmu yang nista ini”, Nurkandam menggeser keris pusaka pemberian Ayah angkatnya, Pangeran Ngabehi, dari posisi lele sinundukan di belakang punggung menjadi nyothe kiwa, condong ke depan di sebelah kiri pinggangnya.

“Justru Kangmas yang harus membunuh saya! Ayo Kangmas! Kalau memang kauanggap menghentikan perang yang telah membuat rakyat sangat menderita ini nista, ini dadaku Kangmas! Ini dadaku! Sarungkan kerismu di sini!”

“Adimas Sentot!”

“Ya… Kangmas tahu, berapa rakyat Jawa tak berdosa yang mati dalam derita oleh jihad kita ini Kangmas? Dua ratus ribu Kangmas! Dua ratus ribu nyawa sia-sia!”
“Belanda-Belanda itukah yang memberitahumu?”

“Dari siapapun, bagaimana kalau itu benar Kangmas? Ya, cita Sultan kita untuk tegaknya agama memang luhur! Mimpi beliau untuk menjadi Ratu Adil Jawa memang mulia! Tapi saya ragu kalau rakyat yang harus menanggung nestapa seberat ini! Seperempat lahan pertanian di Jawa telah rusak, Kangmas. Hampir setiap rumahtangga di wilayah Kasultanan telah kehilangan anggota keluarganya dalam perang. Dua juta jumlahnya! Mereka bangsaku Kangmas, orang Jawa… Kangmas mungkin tak merasakannya karena Kangmas bukan orang Jawa, tapi aku…”

“Cukupppp!”
……………….
____________
Ilustrasi hanya pencitraan demi penghayatan tulisan. Mohon doa untuk kelancaran penyusunan novel ini. Baju yang saya kenakan dari Fullheart Corp, cek di Instagram: @fullheart.corp ?