Ziarah Sang KYAI

Usianya lebih muda 7 tahun dari Sang Pangeran. Wajahnya tampan dengan janggut tipis menawan, lisannya fasih, ilmunya unggul, ibadahnya terjaga, busananya jatmika, pesonanya memikat. Tak disangkal, dia poros ruhiyah Perang Jawa. Dengan kekuatan jaringannya, sehari setelah Puri Ageng Tegalreja luluh lantak diserbu Belanda pada 18 Juli 1825, di Selarong telah berhimpun 1200-an ‘Ulama, para Syaikh, Haji, Kyai, & Santri Prajurit.

Hubungan kekerabatan ibunya dengan Sultan Hamengkubuwana III juga membuat Sang Pangeran merasa dekat. Istilah Jenderal De Kock, “Sang Pangeran percaya buta padanya.”

Ada masanya, hubungan keduanya pasang surut. Beda pendapat terkait penyerbuan Surakarta hingga pandangan ketat syari’at yang menabrak sebagian sisi pragmatis Sang Pangeran pernah jadi ganjalan. Celah ini dimanfaatkan betul oleh Belanda untuk memisahkan mereka. Dalam suatu perundingan, Kolonel Cleerens berusaha menghasut bahwa Sang Kyai yang lebih pantas menjadi pemimpin tertinggi. Apa jawabnya?

(Inggih kula dutaneki; mboten wonten narendraji; ingkang ngluhuraken agaminya; kadosta Jeng Sultan Ngabdul Kamit.. Sungguh saya hanya utusan. Tak ada raja yang meluhurkan agamanya seperti Sultan Abdul Hamid Dipanegara.)

Tuntutannya tak berubah; agar seluruh penjajah kafir pergi dan Sang Pangeran ditetapkan sebagai Ratu Paneteg Panatagama seluruh Jawa.

Sejak perundingan gagal itu, Sang Kyai terus dikuntit. Dalam penjebakan di Kembang Arum, dia bersama 700 pasukannya dikepung rapat. Dengan ayat Quran dan shalawat bersahutan, semua siap mati. Tapi Belanda berjanji, hanya hendak membawa Kyai Maja bertemu Gubernur Jenderal tuk menyampaikan langsung syarat damai Sang Pangeran.

Sang Kyai setuju, 60 orang pengawal setianya memaksa ikut. Merasa bukan tawanan, sepanjang perjalanan mereka terus mengalunkan ayat dan shalawat. Setelah penawanan kejam di ruang bawah tanah Stadhuis Batavia, mereka dikapalkan ke Ambon, lalu ke Manado, kemudian menyeberangi gunung-gunung Minahasa, menjadi cikal bakal Jawa Tondano; marga Modjo, Baderan, Pulukadang, Zess, dan lainnya.

Di pusara ini, di puncak bukit yang asri, Sang Mujahid berehat. Rahimahumullah.😊