TERKEJUT

Di dalam keterangannya, tertulis bahwa foto rumah saya yang ditampilkan Google Earth/Google Maps Street View di anjungan pengunjung kompleks kantornya di Mountain View, California ini diambil pada tahun 2015. Ya, ini sebelum bangunan hijau itu kami tingkatkan keruwetannya dengan penambahan lantai dua di sebelah belakang.

Tapi saya sungguh terkejut. Betapa teganya Google mengambil foto sejelas dan serinci ini dari milik kita yang amat pribadi, lalu seluruh dunia bisa menyaksikannya. Duh. Shalih(in+at) sudah memeriksa kah detail tertampak dari alamat kita?

Betapapun, keterkejutan yang lebih mengerikan juga terjadi di akhirat, semoga Allah jaga kita dari yang sedemikian. Ada tertulis dalam Firman:

“Dan diletakkanlah Kitab. Lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang tertulis di dalamnya. Dan mereka berkata, ‘Aduhai celaka kami! Kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil, dan tidak pula yang besar, melainkan ia mencatat semuanya?’ Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada tertulis. Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang juapun.” (QS Al Kahfi: 49)

Di akhirat nanti, para pendosa tidak akan mengeluhkan takdir; sebab memang Allah Maha Adil. Yang membuat mereka terkejut dan menyesal adalah betapa lengkapnya catatan ‘amal. Lalu yang tersisa adalah rasa malu yang menderaskan keringat dingin, membanjiri tubuh hingga mata kaki, lutut, bahkan pundak.

Maka mari membayar di muka. Menyesali dosa di dunia, insyaallah jadi pemupus keluh di akhirat. Setidaknya; jangan pernah meremehkan dosa, jangan merasa senang atasnya, jangan membanggakan, dan jangan mengajak orang bergabung ke dalamnya. “Jangan lihat kecilnya dosa”, begitu nasehat Bilal ibn Sa’d, “Tapi perhatikan betapa Maha Agung Dzat yang mana kita durhaka padaNya.”

“Dosa-dosa itu bagaikan luka”, tulis Al Imam Ibn Qayyim, “Dan sering terjadi; banyaknya luka membawa si penderita pada kebinasaannya.” Mari perhatikan luka-luka kita dan segera obati dengan istighfar yang tak berjeda lagi sebanyak-banyaknya. Ciri seorang mukmin itu; beramal shalih tapi hatinya terus jerih; penuh harap akan rahmatNya namun cemas akan dosa, murka, dan siksaNya. Sebaliknya, orang fajir itu beramal rusak tapi hatinya tentram merasa aman, tertipu oleh angan-angan.

Tempo hari, Google mengingatkan kita sebuah hakikat yang menusuk dada, bahwa:

“…Allah meliput semua ‘amal perbuatan, padahal mereka telah melupakannya.” (QS Al Mujadilah: 6)