TELUR, MURBEI, KOTORAN

Apa jadinya jika para Imam ummat ini merenungkan hal-hal sederhana di sekitar mereka? Sebuah untaian kebijaksanaan yang bercahaya hadir ke tengah kita.

“Di sini terdapat sebuah benteng yang sangat kokoh dan halus”, ucap Imam Ahmad ketika mentakjubi Rabbnya Yang Maha Pencipta. “Ia tak berpintu, tanpa jalan masuk dan tiada jalan keluar. Bagian luarnya tampak seperti perak dan bagian dalamnya serupa emas murni. Ketika ia dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba dinding benteng itu retak dan pecah. Lalu dari dalamnya keluarlah sesosok makhluq yang dapat mendengar, dapat melihat, serta memilki bentuk yang sangat elok dan suara yang sangat indah.”

“Yang kumaksud adalah telur”, ujar beliau sembari tersenyum, “Ketika anak ayam keluar memecah cangkangnya.”

Bertahun-tahun sebelumnya, guru beliau punya ungkapan yang tak kalah menakjubkan. “Inilah tumbuhan murbei”, tutur Imam Asy Syafi’i, “Yang Dia ciptakan dalam satu bentuk, satu warna, dan satu rasa. Jika ia dimakan oleh ulat sutra, jadilah nanti benang-benang yang sangat halus dan indah. Jika ia dimakan oleh lebah, jadilah ia madu yang manis dan segar rasanya. Jika ia dimakan oleh kambing, jadilah ia susu yang murni lagi bergizi. Jika ia dimakan oleh rusa kasturi, ia akan menjadi wewangian yang harum dan suci.”

Sementara itu, Imam Malik juga pernah ditanya oleh Harun Ar Rasyid tentang keberadaan Allah sebagai Pencipta. Beliaupun menyebut berbagai warna dan rupa, bahasa dan bangsa, serta suara dan nada; sebagai tanda betapa Maha Indah Penciptanya. Atau seperti dikatakan orang ‘Arab, “Subhanallah..Kotoran unta menunjukkan adanya unta, dan jejak kaki menunjukkan adanya seseorang yang pernah berjalan. Bukankah langit mempunyai gugusan bintang, bumi memiliki hehamparan, dan lautan dihiasi gelombang? Tidakkah yang demikian itu menunjukkan pada kita adanya Al Lathiful Khabir, Yang Maha Lembut Lagi Maha Mengetahui?”

Tafakkurkah kita seperti mereka?