SALMAN

Tentang pengembaraan iman yang menakjubkan, ada satu nama yang selalu jadi kenangan. Salman.

Dari Persia dia pergi, meninggalkan kaum Majusi penyembah api, menyusur pemahaman akan Taurat hingga mendapati bahwa si Rabi Yahudi sungguh keji. Lalu satu demi satu Rahib Nasrani yang suci dia layani. Dan guru terakhirnya mengarahkan dia jumpai penutup para Nabi. Di Yatsrib yang terletak di antara dua bukit dan pohon-pohon kurmanya berseri.

Dia uji sang Nabi ﷺ dengan shadaqah dan hadiah, lalu manusia mulia itu membuka gamisnya hingga cap Nubuwwah di antara dua belikatnya tersibak. Dan Salman memeluknya, dengan iman, dengan cinta, dengan harap, dengan bangga.

Hingga tiba satu hari, Salman Al Farisi bertanya kepada Nabi ﷺ tentang guru-gurunya yang shalih dan ahli ibadah; para rahib Nasrani di Mosul, Nasibin, dan Amuria yang bahkan meramalkan dan meyakini kedatangan Rasulullah ﷺ tapi tidak sempat bertemu beliau; bagaimana nasib mereka di akhirat?

Nabi menjawab, “Mereka di neraka”. Maka Salman menangis tersedu-sedu, mengenang kebajikan mereka. Lalu Allah menurunkan ayat:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal shalih, mereka akan menerima pahala dari Rabb mereka, tiada kekhawatiran atas mereka, dan tak pula mereka bersedih hati.”

(QS Al Baqarah [2]: 63)

Nabi ﷺ membacakannya, maka Salman pun lega.

Ayat ini turun tentang orang-orang yang hidup di masa fatrah (jeda ketiadaan rasul) hingga tak sempat mendengar dan mengimani Nabi ﷺ. Kini, kita semualah yang mendapat beban untuk menyampaikan risalah beliau agar semua insan mengetahuinya.

Laa haula wa laa quwwata illa billah.. Berat bukan?
__________
Jazaakallaahu khayran atas segala ilmu dan berbagi pengalaman, Kanda @salman_al_jugjawy yang memang Sakti, yang beberapa kalo jumpanya justru di luar kota, bukan di Jogja tercinta.😊