Salim SEDUNIA

Satu nama selain Abu ‘Ubaidah ibn Al Jarrah dan Mu’adz ibn Jabal yang disebut Sayyidina ‘Umar bahwa seandainya masih hidup akan dia tunjuk sebagai Khalifah sepeninggalnya adalah Salim, Maula Abi Hudzaifah.

Dialah yang tersebut dalam sabda Nabi ﷺ, “Ambillah Al Quran ini dari empat orang, ‘Abdullah ibn Mas’ud, Salim Maula Abi Hudzaifah, Ubay ibn Ka’b, dan Mu’adz ibn Jabal.”

Dalam perang Yamamah, dia bersama bekas tuan yang amat dicintainya bertempur bersisian habis-habisan. “Duhai amat buruk jika aku penjaga Al Quran, sementara pertahanan kaum muslimin jebol karena diriku.”

“Tidak wahai Salim”, ujar Abu Hudzaifah, “Bahkan kamulah sebaik-baik pemikul Al Quran.” Maka keduanya kembali berjuang berdampingan, hingga gugur syahid bersama dan dimakamkan dalam satu lahat galian.

Tak sampai 10 tahun kemudian, tiga putri Kisra Persia masuk Islam. Yang sulung dinikahi oleh Muhammad ibn Abi Bakr Ash Shiddiq, yang bungsu disunting oleh Husain ibn ‘Ali ibn Abi Thalib, dan yang tengah diperistri oleh ‘Abdullah ibn ‘Umar ibn Al Khaththab. Dari mereka lahirlah 3 dari 7 Fuqaha’ Madinah bersepupu; Al Qasim ibn Muhammad, ‘Ali Zainal ‘Abidin ibn Husain, dan Salim ibn ‘Abdillah.

Putra ‘Umar banyak, tapi ‘Abdullah yang paling mirip. Putra ‘Abdullah banyak, tapi Salim yang paling mirip.

Sulaiman ibn ‘Abdul Malik pernah meminta nasihatnya di Multazam, lalu Sang Khalifah memintanya mengajukan keperluannya. “Aku malu meminta pada selain Allah di kala sedang berada di rumahNya”, ujarnya.

Lalu merekapun keluar dari Masjidil Haram dan Sulaiman pun mengulangi tawarannya. “Hajat dunia atau hajat akhirat yang Anda sanggup penuhi ya Amiral Mukminin?”

“Tentu hajat dunia.”

“Hhh”, desah Salim sambil menggeleng prihatin. “Pada Allah Yang Mempunyai dunia inipun aku tak meminta hajat dunia, bagaimana aku meminta pada yang tak memilikinya?”

Salim hidup dalam kemuliaan, membela orang-orang lemah di hadapan penguasa zhalim seperti Al Hajjaj ibn Yusuf Ats Tsaqafi. Salah satu murid kesayangan yang sekaligus keponakannya, ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz kelak menjadi penanda kembalinya cemerlang zaman walau singkat. Jumlah pengantar jenazah Salim ketika wafat di Madinah, telah membuat Khalifah Hisyam ibn ‘Abdil Malik cemburu.

Salim terakhir dalam senarai kisah ini lahir 7 setengah abad kemudian. Dia putra Bayazid, cucu Muhammad Al Fatih. Berlawanan dengan banyak anggapan keliru selama ini, dialah Khalifah pertama Daulah ‘Utsmaniyah, sementara kakeknya hanyalah seorang Sultan-Ghazi dari Khalifah ‘Abbasiyyah akhir yang ditakhtakan di Mesir di bawah lindungan Sultan-sultan Mamluk.

Maka ketika dia berpaling dari jihad di medan Eropa ke Timur, Salim I memancang perlindungan bagi kaum muslimin dengan menduduki Tabriz dan Armenia. Rongrongan Daulah Shafawiyah yang Syi’ah, yang bersekutu dengan Portugis dipapas di Teluk Persia dan Laut Arab. Disempurnakannya kekuasaan dengan melayani Makkah dan Madinah, lalu merebut seluruh Syam, Mesir, dan Afrika Utara dari Mamluk. Khalifah terakhir ‘Abbasiyyah dihadirkan ke Istanbul dari Kairo beserta seluruh pusaka peninggalan Rasulullah yang disandangnya, dari sorban, jubah, pedang, terompah, hingga gigi, dan rambut. Semua diserahkan padanya dan Salim pun dilantik sebagai Malikul Barrain wa Khaqanul Bahrain wa Khadimul Haramain Qaishar-i Rumi, Khalifatullah wa Zhillhuhu fil Ardhi (Raja Dua Benua, Khan Agung Dua Samudera, Pelayan Dua Tanah Suci, Kaisar Romawi, Khalifah Allah dan BayanganNya di Bumi).

Selama pemerintahannya, Salim memperluas wilayah ‘Utsmani dari 2,5 juta km persegi menjadi 6,5 juta km persegi. Putranya, Sulaiman Al Qanuni kelak akan menjadi penanda puncak kejayaan Daulah ‘Utsmaniyah.

Jazaakallaahu khayran kepada Kanda Amirrul Iman atas handlettering indah nama “Salim A. Fillah” ini. Sungguh sang pemilik panggilan amat jauh dari 3 nama Salim yang dia kisahkan. Namun dia amat mencintai mereka, dan berharap cinta itu menghantar pada kebersamaan di surga.

Ya Allah, kami penuh dosa, sungguh tak pantas beroleh FirdausMu yang luhur. Namun rahmatMu mendahului murkaMu, dan ampunMu lebih luas dari semua laku nista hamba. Jadikanlah kami hamba yang “Salim”, yang selamat, dan jadikanlah kami bersaudara “Fillah”, agar mimbar cahaya yang Kau anugerahkan menjadikan cemburu para Nabi dan Syuhada’.