RASA

Lelaki pembunuh 99 nyawa itu tetiba disergap segulung benci pada si Rahib yang mengatakan dosanya tak terampuni. Batinnya yang luka dan tersiksa oleh dosa serasa disiram cuka yang memedihkan.
.
Cara Rahib itu memperlakukannya, berkata-kata, dan menjawab tanya seolah mereka dibatasi dinding tak tertembus. Si Rahib suci. Tanpa dosa. Dan dia lelaki hina, najis, tak terampuni.
.
Sekuncup harap yang tadi bersemi, kini gugur disengat api.
.
Maka sekali lagi syaithan mengalahkannya. Dalam detikan saja, pedangnya telah memenggal si Rahib. Lalu dia disergap sesal yang jauh lebih menyakitkan. Genap sudah 100 nyawa. Darah mengalir merah bagai neraka menyala, siap membakarnya. Dia tergidik. Dia beringsut. Nafasnya tersengal, jangganya tercekik hebat, keringat dinginnya merembesi baju. Dengan tenaga yang dihimpun sepicak-sepicak, dia berlari. Terus berlari.
.
Untuk beberapa waktu, dia bersembunyi. Tapi dia ta
hu, yang dia takuti bukan apa yang ada di luar sana. Yang paling menakutkannya ada di dalam dada. Tak tampak. Tak pernah membiarkannya nyenyak.
.
Satu hari dia tak tahan lagi. Diberanikannya menemui orang yang dianggapnya mampu memberi jawab gelisah hati. Kali ini seorang ‘Alim yang didatanginya. Dan lelaki berilmu itu menerimanya dengan senyum tulus.
.
“Allah Maha Pengampun, Saudaraku,” ujar sa
ng ‘Alim ramah. “Taubatmu pasti diterima. Hanya saja, selain menyesali segala yang telah berlalu dan menebusnya dengan kebaikan, kau juga harus meninggalkan negeri yang selama ini kau tinggali. Pergilah ke negeri lain untuk memulai hidupmu yang baru. Berhijrahlah!”
.
Lelaki pembunuh itu, benar-benar berhijrah. Tapi dia mati di perjalanan. Dan Malaikat Rahmat memenangi perdebatannya dengan Malaikat ‘Adzab. Sebab ketika diukur jaraknya, lelaki itu sejengkal lebih dekat ke arah negeri pertaubatannya. Dia benar-benar telah meninggalkan kejahatan, meski baru sejengkal. Maka Allah memerintahkan agar dia dibawa ke surga.


___________

Si #mncrgknskl ini berada di hadapan Gurunda @ustadzadihidayat, rasanya seperti si pendosa di hadapan Sang ‘Alim; begitu tertenteramkan, begitu terarahkan, terasa taujih sekaligus kasih, bimbingan sekaligus cinta. Jazaahullaahu khayran.