PENJAUHAN

Ada hadits yang melarang menjadikan kuburan sebagai Masjid, tapi mengapa di Nusantara banyak pemakaman muslim dibangun di sebelah Masjidnya? Secara fiqih tentu saja kalau sudah ada pembatas berupa dinding atau pagar di antara keduanya maka menjadi absah, tidak haram shalat di dalamnya. Tapi secara sejarah, Ayahanda Drs. Ahmad Adaby Darban, SU, rahimahullah, pernah menuturkan sebuah penjelasan yang menarik.

Pada mulanya tak jelas apakah karena hendak meneladani makam Nabi dan Baqi’ yang dekat dengan Nabawi; tapi memang Pemerintah Penjajahan Belanda memperluas dan memanfaatkan fenomena ini. Di satu sisi dihembuskan, “Kubur dekat Masjid agar dapat mendengar adzan, dzikir, dan bacaan Quran.” Namun di sisi lain dipropagandakan bahwa, “Kuburan itu angker, seram, banyak setan.”

Tujuannya?

Membuat Masjid yang dekat makam itu sepi. Sebab ummat perlu dijauhkan dari Masjid. Kalau Masjid ramai, jadi tempat berhimpun anak-anak muda, apalagi kumpul-kumpulnya di malam hari, pastilah akan timbul gerakan perlawanan melawan penjajah.

Logika yang sama ada pada penyematan gelar haji agar mudah diawasi. Hal ini menimpa pula benda warisan budaya bernama keris. Entah sejak kapan label “syirik” dilekatkan pada keris. Tetapi patut diduga ada pula pemanfaatan isunya untuk menjauhkan rakyat dari perjuangan. Sebab kita tahu dari para Wali, para Sultan, Pangeran Dipanegara, Alibasah Sentot Prawiradirja, hingga Jenderal Sudirman berkeris. Keris adalah ageman para pahlawan yang terjun ke medan juang.

Melabeli syirik pada suatu benda ada benarnya pada kondisi ia dipergunakan untuk keperluan itu. Tapi kan ini bisa menimpa semua benda? Sabuk, tasbih, cincin, ikat kepala, sobekan kiswah Ka’bah, kerikil jumrah, bahkan jika meyakini hajar aswad atau bahkan Ka’bah bisa memberi manfaat atau madharat. Jika diterjemahkan lebih luas, gadget kita yang kita khusyu’i melampaui segalanya, hawa nafsu yang kita unggulkan di atas semua aturan; ini kan juga membuat tandingan bagi Allah? Syirik tidak terletak pada benda, melainkan ‘amalan hati dan anggota badan manusia untuk mempersekutukanNya. Lalu mengapa keris yang diidentikkan benda syirik?

Penjauhan. Pengikisan semangat juang dan kepahlawanan. Pengaburan filosofi kehidupan dari simbol yang terkandung dalam ratusan jenis Dhapur, ratusan jenis pamor, puluhan ricikan bagian dari bilah hingga warangkanya. Penghapusan nilai ilmiah dari metalurgi, tempa, seni kriya kayu dan logam, hingga sejarahnya.

Mari ambil sebuah contoh kecil, warangka berbentuk mirip buah gayam (Inocarpus fagifer) yang amat sederhana namun fungsional sehingga lebih mudah dibawa untuk mengembara atau berperang. Warangka jenis inilah yang dipakai Dipanegara hingga Sudirman dalam jihad gerilyanya.

Pustaka Keraton, Serat Salokapatra pada pupuh VII mencantumkan, “Gayam gayuhe pandhita, muji-muji tuwuh basuki, puji dhikir shalat sujud, nawang marang Hyang Suksma, tata tentrem kerta raharja tulus tuwuh.”

Artinya: “Gayaman melambangkan cita-cita ‘ulama, menghaturkan tahmid memohon keselamatan dengan berdoa, berdzikir, shalat, dan sujud, menghadap kepada Allah Yang Maha Lembut agar ketentraman dan kemakmuran terus murni lagi bertumbuh.”

Nah.