NEMPEL

“Ya Rasulallah, apakah kau mencium anak-anak kecil itu dan bercanda bersama mereka?”, tanya ‘Uyainah ibn Hishn Al Fazari, ketika menghadap beliau yang sedang direriung oleh cucu-cucu Baginda.

“Mereka adalah wewangian surga, yang Allah karuniakan pada kita di dunia”, jawab beliau ﷺ sembari tersenyum.

“Adalah aku”, sahut sang pemimpin Fazarah, “Memiliki sepuluh anak. Dan tak satupun di antara mereka pernah kucium.”

“Apa dayaku jika Allah telah mencabut rahmatNya dari hatimu? Barangsiapa yang tidak menyayangi, dia tidak akan disayangi.”

Hari ini ketika para orangtua mengeluhkan bahwa putra-putrinya lebih akrab dengan gawai informatika, tercandu permainan daring, dan terbebat media sosial; barangkali harus segera kita perjuangkan agar diri kita kembali lebih asyik untuk disentuh-sentuh dan dipencet-pencet dibanding gadget.

Betapa Nabi ﷺ membuat takjub Abu Hurairah ketika sepulang dari perjalanan jihad, Al Hasan dan Al Husain telah menjadikan beliau kuda-kudaannya, dipacu berkeliling ruangan dengan asyiknya. “Aduh Nak”, ujar sang perawi akbar, “Yang kalian kendarai ini adalah tunggangan termulia di langit dan bumi.”

Beliau ﷺ tersenyum membalas, “Dan para penunggangnya adalah penghulu para pemuda di dunia dan di surga.”

Para ayah, tawarkan pada anak kita taman bermain lengkap di rumah kita, dari badan kita. Tawarkan ayunan dari kedua lengan yang ditautkan jemarinya untuk mereka duduk sambil kitapun menunduk dan mengayunnya maju mundur. Tawarkan komidi putar dengan merentang lengan kanan, persilakan mereka duduk di pergelangannya, lalu pegangi dengan tangan kiri, angkat dan ayunkan naik turun sambil kita terus berputar. Tawarkan jungkat-jungkit dengan menyuruhnya duduk di ujung kaki saat kita bertumpu pada kursi, lalu angkat dan turunkan berulang-ulang. Tawarkan perosotan dengan berbaring 45 derajat di sofa mengenakan kaos serta sarung licin lalu persilakan mereka meluncur dari dada kita.
___________

Mas Jaisyan Mabruri Fillah yang lagi nempel-nempelnya ngajak main, Allahummaa faqqihhu fiddiin wa ‘allimhutta’wiil, waj’alhu lil muttaqiina imaama.