MENJUNJUNG BAHASA

Salah satu yang membuat Bahasa Indonesia terjunjung di hati adalah adanya kata “sesama”, dan terbedakannya antara “kami” dengan “kita”. Sungguh istimewa.

Sementara bahasa lain menggunakan kata “other”, “autre”, “andere”, “al ghayr”, atau “liyan”, yang bermakna ‘orang lain’, “sesama” adalah kata yang indah. Semangatnya untuk menemukan persamaan, bukan perbedaan; ia menguatkan kesamaan, bukan kelainan. Yang memiliki kata serupa barangkali bahasa daerah Nusantara. Orang Jawa misalnya, yang juga penutur terbesar Bahasa Indonesia, memiliki kata “sasama” dalam ragam Ngoko atau “sasami” dalam tingkatan Krama.

Konon manusia memusuhi segala sesuatu yang asing baginya. Maka kata “liyan” alias “orang lain” akan meletakkan cara pandang curiga. Adapun “sesama” adalah pengakuan akan kesetaraan di hadapan Allah serta keakraban dan kasih sayang sebab berasal dari pokok yang satu. Kata “saudara” yang dekat maknanya, konon berasal dari kata “se-udara”, artinya se-kandungan. Maka kita adalah “sesama” dalam segala maknanya.

Adapun “kami” yang terbedakan dari “kita” adalah juga istimewa. Sementara yang lain punya “we”, “nous”, “wir”, dan “nahnu” yang tak membedakan apakah yang diajak bicara dimasukkan ke dalam subjek atau tidak, bahasa Indonesia memerincinya.

Pernah dengar istilah “Zheng Ming”? Ini adalah gagasan Guru Kong pada masa Dinasti Zhou bahwa pembenahan nama-nama, kosakata, dan tata berbahasa adalah langkah mula memperbaiki masyarakat dan negara. Ya, karena keteraturan berbahasa membentuk keteraturan pola pikir, dan sekelompok manusia dengan pola pikir yang baik akan mampu menggagas dan mengasaskan peradaban.

Bukankah peradaban sendiri berasal dari kata Adab yang diambil dari bahasa Arab dengan rentang makna “sastra” hingga “etika”? Ya, ketika Al Quran, turun keliaran berbahasa para penyair sekaligus kemiskinan sastra para awam dijembatani menjadi satu kesamaan pandang yang membuat bangsa Arab beralih dari masa kegelapan menuju masa kesejarahan yang gemilang.

Kita ingat ucapan sakti itu, “Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia!” Selamat menghayati kembali sumpah pemuda kita.😊
#mncrgknskl