MENGGENAPI ALAM

“Kauselimutkan malam, kunyalakan pelita..
Kauciptakan lempung, kubentuk piala..
Kautumbuhkan hutan, kutata taman bunga..”

{Muhammmad Iqbal, Payam-i-Masyriq}

“Tuhan menciptakan bumi”, begitu awal ungkapan bangga hati penduduk negeri kincir angin, “Tapi orang Belanda mencipta negaranya.”

Kini dengan lebih dari 40% wilayahnya terletak di permukaan laut, Belanda di masa lalu adalah rawa-rawa payau yang dikeringkan di belakang tanggul yang menantang laut, lalu air di datarannya dikuras keluar dengan uliran ungkit yang ditenagai kincir-kincir angin.

Saya mengunjungi Kinderdijk, sebuah desa di Lekkerland, Zuid Holland, sekitar 15 KM sebelah timur dari Rotterdam. Terletak di pertemuan Sungai Lek dan Sungai Noord, bahaya banjir dan tanah lembeknya dilawan dengan pembangunan tanggul dan 19 kincir untuk mengeringkan daratannya pada tahun 1740.

Masyaallah, betapapun tiap kali melihat merah-putih-biru, selalu timbul hasrat di hati saya untuk menyobek si warna ketiga, haha, tapi kegigihan orang Belanda untuk melawan alam bagi penghidupan telah mencuri satu ketakjuban di hati saya.

Orang Belanda memandang diri mereka melawan alam, tapi saya lebih suka menyebutnya menggenapi alam, sebagaimana disyairkan Iqbal.

Adapun seisi bumi, sebagaimana tangan dan kaki, akan bersaksi nanti ketika mulut dikunci. Bepergian di muka bumi untuk memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan Allah, diperintahkanNya pada kita agar ruh terisi niat-niat bakti, akal menginsyafi besarnya karunia, dan seluruh jasad tersengat semangat untuk menebar manfaat.

“Sang pribadi bangkit, menyala, jatuh, cemerlang, dan bernafas..
Membakar, menyinar, berjalan dan lari terpental..
Meluaskan ruang waktunya..
Dan keabadian semakin melunasi ujudnya..”

{Muhammad Iqbal, Asrar-i-Khudi}