MENDUNIA

Dalam sebuah perjalanan ke negeri Paman Sam pada tahun 1980-an, begitu Prof. Dr. Umar Kayam bercerita dalam serial ‘Mangan Ora Mangan Kumpul’-nya, pramugari Pan-American yang rutenya Jakarta-Honolulu-San Francisco bertanya pada beliau sambil meringis dengan manis, “Would you like French Dressing, Italian Dressing, or Javanese Dressing for your salad, Sir?”

Serius ini, pikir Pak Kayam, ada Javanese Dressing? Gek kayak apa itu ya? Apa ya bisa tanding disejajarkan dengan penggerujuk salad ala Perancis yang terbuat dari vinegar wine, mustard, merica hitam, garam, dan minyak itu, atau cara Italia yang bahan utamanya minyak zaitun, bawang putih, peterseli, dan lada putih.

“Javanese Dressing, of course!”, jawab Pak Kayam lebih karena ingin tahu. Dan jreng jreng jreng…

Javanese Dressing rupanya adalah Sambal Brambang Asem. Itu sedikit cabe, ditambah garam, gula jawa, bawang merah, dan asam jawa digerus bersama hingga menjadi cairan kecoklatan yang sedap segar. Variasinya bisa ditambah wijen atau kacang sangrai sedikit. Di desa-desa antara Solo-Yogya, ia biasa dipakai mengguyur rebusan kuluban, utamanya kangkung sak-ubarampenya.

Sambal Brambang Asem pernah menjadi Javanese Dressing yang mendunia bersama maskapai penerbangan yang kala itu jaya.

Yang hendak saya katakan kali ini agaknya adalah, jangan menyerah ketika salah satu tapak yang diayun untuk mendunia dipatahkan orang. Ya, saya sedang berada di pabrik pesawat Boeing di Everett, Seattle, tempat saya berjumpa dengan para engineer yang pernah berbakti di IPTN. Ada getir dan ada pilu mengenang N-250 dan calon N-2130 kala itu. Tapi saya tahu, kita seharusnya tak meratap. Jika brambang asem pernah bisa terselip jelita di pesawat buatan Amerika yang dioperasikan maskapai Amerika, ada banyak hal lagi yang dapat kita karyakan untuk mendunia.

Duhai keramahan senyum Indonesia, duhai gotong royong yang amat hangat, duhai keakraban di pengajian sembari makan-makan, duhai rendang, bakso, juga sate, duhai pelajar-pelajar pintar, duhai kerajinan tangan dan seni budaya, duhai rampaknya saman, duhai tenaga kerja yang menebari jagat, duhai animasi yang halus, duhai apps yang diunduh-pasang, duhai start-up yang cerdas, duhai senapan serbu yang jitu, duhai kapal PT PAL, duhai terus berlanjutnya CN-235, dan duhai segala industri strategis yang kembali bangkit merintis.

Duhai Indonesia, teruslah berkarya, mendunia.