KITA

Entah berapa sering aku harus pergi meninggalkan tugas sebagai ayah dan suami.
Tapi kau setia berjaga tak henti menjadi ibu dan istri.

Entah berapa hari dalam sebulan aku utuh bersamamu.
Tapi aku tahu bahwa di semua waktu kau selalu ada untukku.

Entah kuletakkan di urutan ke berapa isi fikir dan rasamu.
Tapi kau selalu jadikan segala tentangku sebagai yang nomor satu.

Entah berapa kali bayang indahmu mengabur dari benakku.
Tapi kau tetap patrikan namaku sebagai imam di mushalla kehidupanmu.

Tersabda bahwa Hawa dicipta dari rusuk Adam yang kiri, dekat ke jantung hati untuk dicintai, dekat ke tangan untuk dilindungi.
Tapi aku sering merasa kaulah tulang iga yang menjaga jantung hatiku, yang menopang tangan rapuhku.

Tersabda bahwa ruh-ruh yang saling kenal akan mudah berpaut, yang saling asing akan cenderung berselisih.
Tapi aku merasa ruhku bertaut padamu karena kemurahan hatimu tuk menerimaku. Tapi aku merasa ruhku bertaut padamu seperti setetes embun di daun yang jatuh ke dalam telaga.

Aku faqir cinta, dan telah kausantuni aku dengan shadaqah kasihmu lebih dari 13 tahun lamanya. Kini tersadari, aku pula harus belajar dan berlatih lagi sampai dalam mahabbah bisa menjadi muzakki.

Sebab takkan cukup semua kata dari seluruh bahasa merangkum cinta kita; izinkan selalu kuulang sajadah mahabbahku yang berkiblat pada istiqamahmu; “Engkaulah separuh agama, penjaga ketaatanku.”