KHILAF, BENCI, dan CINTA (2009)

Seorang kawan, dalam do’a dan salamnya
di berlalunya seperempat abad usiaku
kembali mengenangkanku sebuah kaidah
“bencilah kesalahannya, tapi jangan kau benci orangnya.”

betulkah aku sudah mampu begitu
pada saudaraku, pada keluargaku,
pada para kekasih yang kucinta?
saat mereka terkhilaf dan disergap malu
betulkah kemaafanku telah tertakdir
mengiringi takdir kesalahan mereka?

tapi itulah yang sedang kuperjuangkan
dalam tiap ukhuwah dan cinta
dalam tiap ikatan yang Allah jadi saksinya

karena aku tahu, bahwa terhadap satu orang
aku selalu mampu membenci luputnya
tapi tetap cinta dan sayang pada pelakunya
itulah sikapku selalu pada diriku sendiri

kucoba cerap lagi kekata imam asy syafi’i
“aku mencintai orang orang shalih”
begitu katanya, diiringi titik air mata
“meski aku bukanlah bagian dari mereka dan aku membenci para pemaksiat-Nya meski aku tak berbeda dengan mereka.”

ya.. mungkin dia benar

tapi dalam tiap ukhuwah dan cinta
dalam tiap ikatan yang Allah jadi saksinya
aku ingin meloncat ke hakikat yang lebih tinggi

karena tiap orang beriman tetaplah rembulan
memiliki sisi kelam,
yang tak pernah ingin ditampakkannya pada siapapun
maka cukuplah bagiku
memandang sang candra
pada sisi cantik yang menghadap ke bumi

tentu, tanpa kehilangan semangat
untuk selalu berbagi dan sesekali merasai
gelapnya sesal dan hangatnya nasehat sebagaimana sang rembulan
yang kadang harus menggerhanai matahari.