GELOMBANG & LAUTAN

Alkisah, sebuah gelombang kecil asyik bermain di tengah lautan.

Ia naik dan turun, maju dan mundur, berputar dan bergulung-gulung. Ia begitu bahagia seolah segalanya takkan berakhir. Dengan riang ia nikmati angin sejuk dan udara sepoi basah yang bertiup lembut.

Begitulah sampai suatu saat dalam jarak yang tak lagi jauh dari pantai, ia menyaksikan gelombang-gelombang lain di depannya pecah, terhempas berhamburan. Pada akhirnya, semua akan hancur berantakan. Tak wujud lagi. Tanpa bekas. Tak berjejak.

“Oh Tuhan”, ujarnya bergidik, “Alangkah mengerikan.” Ia memandang dirinya. Ia memang lebih besar kini dibanding tadi ketika masih di tengah samudra. Tapi apa artinya bertambah ukuran jika kebinasaan telah begitu dekat? “Lihat!”, pekiknya ketakutan saat menatap tepian, “Seperti itukah nasibku nanti?”

Sebuah gelombang lain yang lebih dewasa segera menjajarinya. Melihat kemurungan di wajah saudaranya itu, ia bertanya, “Ada apa denganmu? Mengapa kau begitu sedih hingga tubuhmu menciut lagi?”

Gelombang pertama menukas sendu. “Engkau tak mengerti!”, katanya dengan nada putus asa, “Semua gelombang seperti kita akan memukul karang-karang pantai. Kita semua pasti akan kalah, pecah, terhambur, dan hancur. Tidakkah kau sadar bahwa kita semua akan binasa dan lenyap tanpa sisa?”

Gelombang kedua tersenyum. “Kawan”, ujarnya dengan mesra, “Kau ini bukanlah gelombang. Kau adalah bagian dari lautan.”

Sebakda kisah ini, kita lalu menatap takjub betapa sosok demi sosok ombak tak takut hancur dipecah karang. Itu sebab mereka insyaf diri sebagai bagian tak terpisahkan dari samudera akbar yang terus bergelora.

Begitulah kita, diberikan peran-peran sejarah oleh jama’ah untuk bergerak, memberi pemandangan indah pada dunia. Tetapi hakikatnya kita semua adalah bagian dari satu ummat, sebentuk lautan dengan keagungan tak bertepi.

Perlu terus dipupuk kesadaran agar kita yang merasa seagung gelombang, sedahsyat ombak, atau seriuh riak, hakikatnya hanyalah bagian dari lautan. Dan di sanalah, dalam penyatuan itu, kita menjadi bernilai.

“Tangan Allah”, demikian sabda Rasulullah ﷺ riwayat At Tirmidzi, “Ada bersama jama’ah.”
_________
#mncrgknskl